Tusuk Nelayan, Residivis Kasus Pencurian Asal Sumba Barat Divonis 2 Tahun Penjara 

“Menghukum terdakwa Kristoforus Baba dengan pidana penjara selama 2 tahun”

(Last Updated On: )

Ilustrasi penikaman.Foto/Net

DENPASAR-Fajarbali.com|Majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar pimpinan Aripathi Nawaksara menjatuhkan vonis 2 tahun penjara terhadap pria asal Sumba Barat, Kristoforus Baba yang menikam seorang nelayan di Kedonganan. 

Dalam sidang, Kamis (12/1/2023), Hakim dalam amar putusannya menyatakan terdakwa Kristoforus Baba terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 ayat (1).

Baca Juga : Tusuk Nelayan, Residivis Kasus Pencurian Dituntut 2,5 Tahun Penjara 

Baca Juga :Ditegur Geber Motor, Residivis Tusuk Nelayan Pakai Pisau Dapur

“Menghukum terdakwa Kristoforus Baba dengan pidana penjara selama 2 tahun, menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan,” demikian putusan hakim yang dibacakan dalam sidang online. 

Vonis ini 6 bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Putu Trisna Dewi yang sebelumnya menuntut agar terdakwa dipenjara selama 2,5 tahun. Atas vonis ini, terdakwa dan JPU menyatakan sikap pikir-pikir.

Baca Juga : Kasus Warga India Penyelundup Berlian di Anus Dilimpahkan ke Jaksa 

Baca Juga : Polda Bali Duga Proyek Pembangunan Kampus Unud Jimbaran Bermasalah

Diketahui, akibat perbuatan terdakwa, korban I Ketut Adi Suwila mengalami 6 luka tusuk. Bahkan dimuka sidang, saksi korban sempat mengatakan bahwa akibat perbuatan terdakwa, dia tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari akibat luka tusuk yang dideritanya. 

Diberitakan sebelumnya, kasus penusukan ini terjadi pada tanggal 02 September 2022 sekitar pukul 09.00 WITA di Balai Kelompok Nelayan Segara Ayu Jalan Telaga Ayu kelurahan Kedonganan.

Baca Juga : Kasus Narkotika, Pesepakbola Asal Rusia Divonis 7,5 Tahun Penjara 

Baca Juga : Nekat Jadi Kurir Sabu dan Ekstasi, Pria Asal Lumajang Dituntut 9 Tahun Penjara

Kejadian bermula saat saksi korban bersama Wayan Dana sedang membuat pagar shading net untuk bibit mangrove di Balai Kelompok Nelayan. Lalu terdakwa melintas di depan Balai Kelompok Nelayan. 

Diwaktu yang sama, terdakwa yang sedang mengendarai sepeda motor yang kemudian berhenti di salah satu warung disekat saksi korban dan menggeber motor sehingga menimbulkan suara knalpot yang cukup keras.

Baca Juga : Hakim Vonis Terdakwa KUR BRI di Badung 6,5 Tahun Penjara

Baca Juga : Mabuk, Bule Rusia Tenggelam di Dasar Kolam Renang Vila Bidadari

Terdakwa kembali menggeber sepeda motornya saat hendak meninggalkan warung. Atas hal itu  saksi korban pun langsung menegur terdakwa agar tidak berkendara seperti itu. Mendapat teguran terdakwa berhenti. 

“Saksi korban kembali menegur terdakwa agar berkendara dengan  benar karena banyak anak kecil melintas di jalan yang dilalui terdakwa,” sebut jaksa dalam dakwaannya. Akibat teguran itu, sempat terjadi keributan kecil antara korban dan terdakwa.

Baca Juga : Selain Kasus Narkotika, WN Meksiko Ini Juga Dijerat Kasus Pencucian Uang

Baca Juga : Kasus Ganja dan Sabu, Pria Keturunan India Dituntut 3 Tahun 10 Bulan Penjara

Beruntung datang saksi Stefanus dan langsung melerai pertengkaran itu sehingga terdakwa pergi dan kembali ke sebuah proyek yang juga tempat terdakwa tinggal. Ternyata terdakwa tidak terima ditegur oleh korban .  

Dengan berbekal sebilah pisau,  terdakwa dengan berjalan kaki menuju Balai Kelompok Nelayan untuk mencari saksi korban. Tanpa banyak bicara, terdakwa langsung mendekati korban dan langsung menusuk korban dari belakang. 

Baca Juga :Penyidik Tetapkan 2 Tersangka Penusuk Anggota Biro SDM Polda Bali

Usai menusuk korban sebanyak 6 kali, terdakwa yang melihat banyak warga berdatangan langsung lari ke arah hutan mangrove dan membuang di jalan didepan rumah warga.W-007

Next Post

Gubernur Bali Diharapkan Segera Terbitkan Pergub Terkait Kuota Sapi

Jum Jan 13 , 2023
“Selama ini petani berusaha untuk sabar. Tetapi setelah pertemuan G20 sukses digelar, Pergub tidak kunjung diturunkan, sehingga petani ternak kian lama akan menjerit bahkan mengancam untuk turun melakukan aksi demo,” jelasnya.
IMG-20200909-WA0004-0ae7bb6f

Berita Lainnya