“Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka” Krama Mengwi Bersatu dalam Karya Atma Wedana

AA Gde

FOTO: Pengerajeg Karya Penileman/Atma Wedana Desa Adat Mengwi AA Gde Agung di lokasi upacara, Pura Dalem setempat.

 

MANGUPURA – sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Prinsip "sagilik saguluk salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya" yang mengandung makna, bersatu padu saling menghargai, saling menyayangi dan hidup saling tolong-menolong, diimplementasikan oleh Krama Desa Adat Mengwi, Badung, dalam prosesi Karya Panileman/Atma Wedana, yang puncaknya digelar Sabtu (14/10/2023) di Pura Dalem setempat.

Karya yang dipersiapkan sejak satu bulan sebelumnya ini, meliputi memukur sebanyak 127 sawa, mesangih atau metatah 295 orang, mepetik 187 orang, serta menek kelih 188 orang. Selain 11 banjar setempat, upacara keagamaan massal ini juga diikuti sejumlah banjar yang masuk wilayah Kabupaten Tabanan.

Manggala Karya I Made Jiwa, menjelaskan, memukur massal merupakan agenda rutin dua tahunan di Desa Adat Mengwi sejak pertama kali dilaksanakan tahun 2015 lalu. Tahun 2023 ini, sedikit mundur akibat pandemi Covid-19.

Menurut Made Jiwa, memukur massal merupakan bentuk kehadiran desa adat untuk membantu warganya, baik yang berada di tataran perekonomian menengah ke atas dan ke bawah. Selain itu, memukur massal diharapkan menjadi ajang pemersatu krama Mengwi.

"Dalam karya pitra yadnyda dan manusa yadnya ini, semua berada di posisi sejajar. Karena pesertanya ada dari kalangan Brahmana, Gusti, Jero dan krama lainnya. Tidak ada kasta. Semua berbaur jadi satu," tegasnya.

Di hari puncak karya, Made Jiwa merinci setiap prosesi yang dimulai Pukul 8.00 pagi. Pertama dimulai dengan  ngemijiang, ngiyasa Dewa Pitara, setelah itu prosesi purwa daksina dituntun oleh lembu. Selanjutnya Dewa Pitara "munggah ring peyadnyan" dan "ngaturang bawa".

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top