Kasus Dugaan Penipuan Pembelian Tanah, Terdakwa Gunawan dan Notaris Neli Dituntut Berbeda

DENPASAR-fajarbali.com | Dua terdakwa kasus dugaan penipuan jual beli tanah sehingga korban Mahendra Anton Inggrriyono mengalami kerugian Rp.11.673.500 miliar, terdakwa Gunawan Priambodo dan oknum Notaris Ketut Neli Asih, Senin (22/4/2019), dituntut berbeda oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Oka Surya Atmaja.


Di hadapan majelis hakim pimpinan Pharta Bhargawa, jaksa Kejari Denpasar itu menuntut terdakwa Gunawan selama 3,5 tahun penjara dan Nely selama 2,5 tahun penjara.

Dalam amar tuntutannya, jaksa menyebut terdakwa Gunawan Priambodo terbukti bersama melakukan tindak pidana penipuan. Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP. “Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa Gunawan Priambodo dengan pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan,” tegas jaksa.

Sedangkan terhadap terdakwa Neli Asih yang di sidang terpisah juga dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP Jo Pasal 56 ayat (2) KUHP. Yaitu terdakwa Neli Asih tebukti melakukan tindak pidana dengan sengaja memberi kesempatan atau sarana dalam tindak pidana penipuan. “Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa Ketut Neli Asih dengan pidana penjara selama dua tahun enam bulan penjara,”ujar jaksa.

Atas tuntutan itu, ketua terdakwa melalui kuasa hukumnya masing-masing menyatakan akan menanggapi tuntutan jasa secara tertulis. Namun mengingat masa tahanan kedua terdakwa habis, majelis menjadwalkan sidang dengan agenda putusan pada hari Kamis (25/4) mendatang.

Seperti diberitakan sebelumnya, terdakwa Gunawan Priambodo dan oknum notaris Ketut Nely Asih diduga terlibat kasus penipuan atas pembelian tanah di Paradice Loft. Awalnya pembayaran lancar dan saksi Santi Raharjo, tak lain adalah istri korban, Mahendra Anton Inggrriyono pun sudah membayar lunas. Namun menurut saksi, meski susah ada pembayaran lunas, pihaknya (saksi korban) belum juga menerima AJB (akta jual beli).

Karena AJB tidak kunjung dibuat, pasangan suami istri itu akhirnya curiga. Dalam kecurigaan itu, sempat menanyakan kepada Notaris Rosilawati dan menahankan soal soal keberadaan sertifikat yang akan dipecah tersebut.

Saat itu dijawab oleh notaris Rosilawati bahwa sertifikat itu ada pada notaris Triska Damayanti. Dari sinilah diketahui bahwa sertifikat itu ada pada orang yang bernama Suriyanto. “Jadi suami saya bertemu dengan salah atau staf dari notaris Damayanti, dari sini baru diketahui bahwa sertifikat itu ada pada Suriyanto,” pungkas saksi. (eli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Hari Kartini, “Ayo Ke AHASS Wanita Indonesia” Diskon 21 Persen Khusus Untuk Konsumen Wanita

Sel Apr 23 , 2019
DENPASAR-fajarbali.com  I   Untuk turut merayakan hari Kartini 21 April 2019, seluruh jaringan AHASS Bali memberikan apresiasi bagi konsumen wanita melalui program “Ayo ke AHASS Wanita Indonesia”. Bentuk apresiasi yang di berikan berupa diskon jasa service lengkap  sebesar 21%  berlaku periode 21-30 April 2019. Seluruh konsumen wanita dapat memanfaatkan promo khusus […]
BPD BALI