“Dolphin Lodge” Ajak Anak Panti Dharma Jati Berinteraksi dengan Lumba Lumba

DENPASAR-fajarbali.com | Sebagai perusahaan yang telah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali untuk  mempertahankan kehidupan habitat mamalia laut khususnya lumba lumba, PT. Piayu Samudra Loka tampaknya tak kenal lelah melalukan sosialisasi untuk memberi edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya melestarikan kehidupan lumba lumba.

Perusahaan yang menaungi  “Dolphin Lodge Bali” yang mengelola konservasi mamalia laut di bilangan Pantai Mertasari,  Banjar Blanjong, Desa Sanur Kauh, Denpasar Selatan ini, kembali menjalankan misi sosial memberi edukasi kepada masyarakat untuk mengetahui keberadaan atraksi dolphin. Kali ini anak-anak penghuni Panti Asuhan Yayasan Dharma Jati I, Denpasar mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan mamalia laut. “Kami sengaja membuat program khusus mengundang anak sekolah dan yayasan untuk melihat dari dekat upaya pelestarian lumba lumba di Mertasari, Sanur,” ungkap Consultan PT. Piayu Samudra Loka,  Alex Ang, didampingi Manajer Operasional, I Made Suwijana, di sela sosialisasi pelestarian lumba lumba, Minggu (28/4) di kantor Dolphin Lodge Bali, Pantai Mertasari, Sanur Kauh.

Sosialisasi kali ini melibatkan sekitar 72 orang dari Panti Asuhan Dharma Jati yang dikoordinir pengelola panti, I Wayan Nika. Sebelum melihat dari dekat kehidupan lumba lumba di keramba apung di tengah laut,  mereka diberikan penjelasan seputar ekosistem mamalia laut yang patut dilestarikan guna memperpanjang kehidupannya di alam laut.
Pada sosialisasi yang juga dihadiri Kepala Dusun Banjar Blanjong, I Nyoman  Sumerdana, tokoh masyarakat yang juga pengempon Pura Mertasari dan Pura Tirta Empul, IB. Kompyang Sindu, Alex Ang mngaku sebagai salah satu  perusahaan yang menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan habitat lumba lumba di Mertasari sejak 2006 kini telah menyelamatkan 7 ekor lumba lumba, ikan hiu serta ikan pari dalam  keramba apung di tengah laut. Selain sebagai atraksi serta edukasi, upaya yang diklaimnya satu-satunya di Asia ini juga diharapkan menjadi destinasi baru untuk menunjang kepariwisataa Bali umumnya dan Sanur khususnya. Lebih khusus lagi Sanur Kauh.
Manajer Operasional Dolphin Lodge Bali, I Made Suwijana menambahkan, pelestarian habitat lumba lumba di KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) ini selain untuk kepentingan pelestarian lingkungan (laut) juga sebagai upaya mendukung kepariwisataan secara luas. Untuk itu pihaknya serta masyarakat Sanur Kauh berharap pemerintah merestui pengelolaan kawasan  di Pura Tirta Empul,  Merta Sari ini.
Kepala Subbagian Tata Usaha BKSDA Bali, I Ketut Catur Marbawa, juga menegaskan, masyarakat mesti mengetahui satwa yang dilindungi agar kehidupan satwa baik di laut maupun darat tetap terjaga. Seperti yang diprakarsai Dolphi Lodge Bali ini merupakan satwa yang dilindungi milik pemerintah. Untuk itu pengelola harus memenuhi kriteria agar dapat melakukan konservasi. Diantaranya satwa yang dilindungi harus bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari penyiksaan secara fisik, bebas dari sakit dan cedera, bebas mengekspresikan perilaku alami, bebas dari rasa takut dan stres. “Ketentuan itu harus dilakukan pengelola sehingga satwa dapat dilestarikan,” terang Catur Marbawa.
Selain melalukan penyelamatan satwa, pengelola juga diharapkan tetap peduli lingkungan. Artinya, perusahaan jangan hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi ikut “berbagi” bukan hanya materi tetapi juga berbagi pengetahuan dengan mengedukasi masyarakat tentang penyelamatan lumba lumba. “Mari kita jaga keberlangsungan hidup satwa di alamnya lebih lama. Untuk itu kami mengajak semua pihak untuk peduli terhadap lingkungan. Di sini tidak hanya bisa belajar secara teori melainkan juga diajak berinteraksi langsung dengan lumba lumba. Kami harap informasi ini bisa disebarluaskan kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga satwa-satwa yang dilindungi,” tandas Catur Marbawa.
Ketua Yayasàn Panti Asuhan Dharma Jati, Wayan Nika, memberi apresiasi terhadap upaya yang dilakukan pihak Dolphin Lodge yang terus memberi edukasi, berbagi pengetahuan tentang keberadaan satwa yang dilindungi pemerintah. “Kami ucapkan terima kasih sudah memberi kesempatan kepada anak-anak kami berinteraksi langsung dengan lumba lumba di keramba apung di tengah laut Merta Sari,” ucap Nika. (car)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Tabanan Harmoni Festival Bumikan Pancasila

Ming Apr 28 , 2019
TABANAN-fajarbali.com | Panggung Garuda Wisnu Serasi (GWS) Tabanan menjadi saksi sejarah Pagelaran Acara pembukaan Tabanan Harmony  Festival (THF) I yang digelar  Jumat (26/4) oleh Pemkab Tabanan. Festival THF yang berlangsung hingga Sabtu (27/4) ini bertujuan untuk membumikan Pancasila dan menyatukan keragaman dibawah naungan NKRI dengan tema Harmony & Unity Membangun […]
BPD BALI