Kendalikan Stunting dari Makanan

Makanan menjadi faktor penting untuk mencegah stunting, khususnya pada usia 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

(Last Updated On: )

Sosialisasi Penguatan Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting di Desa Sebudi, Selat, Karangasem.

 

AMLAPURA-fajarbali.com l Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bali Sarles Brabar, menyebut makanan menjadi faktor penting untuk mencegah stunting, khususnya pada usia 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

Hal itu disampaikan Sarles di sela “Sosialisasi Penguatan Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting bersama Mitra Komisi IX DPR RI, di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Selasa (23/1).

1000 HPK, menurut dia, fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin pada saat kehamilan (270 hari) sampai dengan anak berusia 2 tahun (730 hari). Pada periode inilah organ-organ vital (otak, hati, jantung, ginjal, tulang, tangan atau lengan, kaki dan organ tubuh lainnya mulai terbentuk dan terus berkembang.

“Jadi faktor asupan makanan saat ibu hamil hingga bayi lahir menjadi kunci penting. Kalau makanannya tidak bergizi, susah jadi pandai dia,” kata Sarles.

Lebih lanjut, ia mengajak peserta yang terdiri dari 400 orang lebih, untuk memahami keamanan pangan, obat hingga kosmetik dengan memanfaatkan layanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang juga notabene mitra Komisi IX. Apalagi saat ini sudah tersedia aplikasinya di handphone pintar.

Terkait percepatan penurunan stunting, ia menyebut sesuai amanat Perpres 72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting sangat penting dilakukan melalui edukasi kepada semua pihak. Sesuai target nasional bahwa stunting ditargetkan berada di angka 14 persen. Bali sendiri diupayakan agar mampu menekan di bawah angka nasional.

“Kita tidak henti-hentinya mengampanyekan sosialisasi stunting. Provinsi Bali dan kabupaten/kota kita tekan agar dibawah angka nasional, ” terangnya.

Ditambahkan, pada tahun 2022 angka prevalensi stunting Bali terendah pada angka 8 persen. Pihaknya berharap pada tahun ini dapat ditekan di angka 6,15 persen. Lebih spesifik lagi, lanjutnya, meski sudah mengalami penurunan, tahun 2023 Kabupaten Karangasem diharapkan bisa diangka 5 persen.

Sementara Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana, mewanti-wanti agar masyarakat Sebudi, khususnya kaum remaja agar menghindari perkawinan usia dini, sebab berdasarkan survey, anak-anak stunting didominasi lahir dari orangtua di bawah umur.

“Imbauan pemerintah sudah sangat jelas, minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Itu usia ideal yang baik dari sisi mental dan organ reproduksi,” jelasnya.

Ia juga mengajak calon pengantin agar melakukan skrining kesehatan minimal tiga bulan sebelum menikah. Tujuannya, jika ditemukan faktor risiko, segera diintervensi oleh tim pendamping keluarga.

“Jadi faktor stunting ini sangat kompleks. Tidak hanya soal makanan, pola asuh dan pola hidup, tapi sangat penting mengendalikan daru hulu. Dari calon orangtua,” pungkas dia. (rl)

Next Post

Pemkab Badung Bangun Sarana dan Prasarana Jajaran Polda Bali

Kam Jan 25 , 2024
Pemerintah Kabupaten Badung berkomitmen penuh untuk selalu hadir dan tegak lurus dalam mendukung tugas pokok dan fungsi POLRI.
IMG_20240125_113803_863

Berita Lainnya