Ini, Hasil Audit Evaluasi Kasus Stunting Bali

Kepala Perwakilan BKKBN Bali dr. Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS., mengungkapkan, setidaknya ada empat persoalan mendasar yang ditemukan tim audit pada sasaran.

 Save as PDF

EVALUASI Audit Kasus Stunting di Provinsi Bali, Kamis (1/12) di Kuta, Badung.

 

MANGUPURA – fajarbali.com | Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali menggelar Evaluasi Audit Kasus Stunting selama dua hari, 1-2 Desember 2022 di Kuta, Badung. Evaluasi ini merupakan tindak lanjut dari audit sembilan kabupaten/kota se-Bali.

Kepala Perwakilan BKKBN Bali dr. Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS., mengungkapkan, setidaknya ada empat persoalan mendasar yang ditemukan tim audit pada sasaran.

Pertama, untuk calon pengantin (catin) permasalahan di HB yang rendah, Kekurangan Energi Kronis (KEK), dan beberapa kasus ditemukan calon pengantin dengan usia terlalu muda untuk menikah.

Untuk ibu hamil, permasalahan yang ditemukan sebagian besar adalah terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan beberapa kasus dengan HB rendah dan penyakit penyerta lainnya

Ia melanjutkan, untuk ibu nifas, yang ditemukan beberapa masih terlalu muda untuk melahirkan dan riwayat KEK. Terakhir, untuk baduta dan balita, sebagian besar mengalami kekurangan gizi sehingga probably stunted.

“Yang perlu kita perhatikan dari kasus diatas adalah beberapa kasus baduta/balita, lahir dengan berat badan normal, namun dalam masa tumbuh kembang tidak terpantau dengan baik, sehingga menyebabkan probably stunted dan permasalahan stunting pada baduta/balita juga disebabkan karena pola pengasuhan dan pemberian MPASI yang kurang tepat,” ujar pemilik sapaan akrab dr  Luh De ini.

Peraturan Presiden, lanjut dr. Luh De, mengarahkan pendekatan pencegahan lahirnya balita stunting melalui pendampingan keluarga beresiko stunting, agar siklus terjadinya stunting dapat dicegah, perlu adanya formula kebijakan dan strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada, satu diantaranya adalah audit kasus stunting.

Sehingga ia berharap semua komponen mengambil bagian, gotong royong dalam mencapai target penurunan stunting menyambut Indonesia Emas tahun 2045.

Christian, Sp.GK., salah satu Tim Audit Pakar Gizi Kabupaten Klungkung menuturkan, masih terdapat kekeliruan pola asuh pada baduta dan balita di lapangan. Ini disebabkan minimnya literasi masyarakat tentang pemenuhan gizi seimbang.

“Contoh yang saya temukan anak yang dua tahun itu dikasi sayur terus. Padahal itu gak baik. Nah kalau dewasa malah bagus banyak sayur,” kata dia sembari menambahkan beberapa perempuan catin juga teridentifikasi kekurangan gizi.

Selain itu, yang tak kalah penting menurut Christian adalah intervensi faktor sensitif, seperti sanitasi rumah tangga, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Sehingga, kolaborasi lintas sektor memang menjadi kunci penanganan stunting ini. (Gde)

 Save as PDF

Next Post

Loncat ke Sumur Sedalam 15 Meter, Seorang ODGJ Tewas

Jum Des 2 , 2022
Pernah Bunuh Kakak Kandung dan Percobaan Bunuh Diri
IMG_20221202_180900-56f37591

Berita Lainnya