
Lokakarya Media 'Jurnalistik Pemberitaan Kekerasan Seksual Yang Berimbang dan Berpihak Pada Korban' yang diselenggarakan Grab Indonesia, Jumat (15/9) di Badung, Bali. (Foto: Tha)
MANGUPURA-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Belakangan ini masyarakat dibuat geram dengan banyaknya pemberitaan kasus pencabulan atau kekerasan seksual terhadap anak maupun perempuan di Indonesia termasuk juga di Provinsi Bali. Anak-anak dan perempuan yang semestinya mendapatkan perlindungan, malah menjadi korban kekerasan seksual. Ini menyebabkan anak dan perempuan sebagai korban menderita lahir batin serta terampas masa depannya.
Sekretaris Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Bali I Gusti Putu Widiantara, SE, M.Si, mengaku prihatin dan menyesalkan terjadinya kasus kekerasan seksual yang kerap terjadi dengan melibatkan anak dan perempuan sebagai korban utamanya. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah maupun penegak hukum dapat menjerat pelaku kejahatan dengan hukuman yang semaksimal mungkin atau seberat-beratnya.
"Terlebih jika dampak yang ditimbulkan menyangkut masa depan dan psikologis anak-anak tersebut. Banyaknya jumlah korban juga harus menjadi pertimbangan yang memberatkan hukuman. Selain itu, pentingnya sinergitas antara pemerintah, penegak hukum, masyarakat, dan peran aktif media dalam menanggulangi atau mengentaskan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan tanpa harus mempublikasikan secara luas identitas korban serta pemberitaan diharapkan dapat berimbang dan berpihak pada korban," ungkap Widiantara saat Lokakarya Media 'Jurnalistik Pemberitaan Kekerasan Seksual Yang Berimbang dan Berpihak Pada Korban' yang diselenggarakan Grab Indonesia, Jumat (15/9) di Badung, Bali.










