Berkat Tenun Cepuk, Dosen Undiknas Raih Doktor

“Kain tenun cepuk unik, bernilai magis dan penuh filosofis. Dia tidak berkembang tapi masih hidup”.

(Last Updated On: )

I Nengah Wirsa (4 dari kiri) bersama penguji, promotor dan undangan akademik.

 

Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) University kembali menambah doktor baru bidang Ilmu Manajemen, setelah I Nengah Wirsa, SE., MM., sukses melewati Ujian Terbuka Promosi Doktor, Program Studi Doktor Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (FEB Unud), Rabu (24/1), di Denpasar.

Dalam disertasinya bertajuk “Strategi Pengembangan Bisnis Kain Tenun Cepuk Menuju Bisnis Berkelanjutan”, Wirsa melakukan penelitian mendalam tentang kain tenun cepuk di Desa Tanglad, Nusa Penida, Klungkung.

“Kain tenun cepuk unik, bernilai magis dan penuh filosofis. Dia tidak berkembang tapi masih hidup. Penelitian tentang kain ini juga masih jarang,” jelas Wirsa mengungkapkan alasan memilih penelitian tersebut dengan pendekatan kualitatif.

Menurut akademisi asal Desa Akah, Klungkung ini, tren tenun tradisional Bali sedang dalam masa kejayaannya, terlebih saat era Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan imbauan penggunaan pakaian endek bagi ASN, serta berbagai kesempatan promosi yang diinisiasi Dekranasda Bali.

Tenun cepuk pun terkena imbas, khususnya cepuk kurung yang memang diperuntukkan bagi kepentingan komersil, bisa digunakan untuk pakaian. Sementara cepuk kawisan, bersifat sakral, berbahan alami dan tidak sembarangan membuatnya. Cepuk kawisan khusus digunakan untuk keperluan upacara adat keagamaan, misalnya “rurub” pratima ida betara, metatah, tiga bulanan dan upacara yadnya lainnya.

“Bahkan konon air celupan tenun kawisan bisa menyembuhkan penyakit. Dari etimologinya, cepuk artinya bertemu. Jadi apa yang diharapkan, itulah yang ditemukan,” jelas Wirsa yang telah mengabdi di Undiknas sejak 1987.

Ia pun mendorong agar perajin tenun cepuk di Tanglad melakukan strategi penhem bisnis. Apalagi pariwisata Nusa Penida sedang pesat ditambah perhatian pemerintah terhadap perajin. Dengan manfaatkan pasar digital, ia yakin tenun cepuk bercorak unik yang susah ditiru itu akan menembus pasar dunia.

Wirsa menerangkan, faktor-faktor yang memengaruhi bisnis berkelanjutan, meliputi ketersediaan modal, bahan baku, jumlah tenaga kerja dan jangkauan hasil produksi. Untuk itu, menurutnya, tenun cepuk yang telah ada sejak Kerajaan Waturenggong harus dijaga kelestariannya.

“Semoga pemikiran-pemikiran saya dalam disertasi menjadi inspirasi pelaku usaha tenun cepuk, dan pihak lain untuk keberlangsungan warisan budaya kita,” harap Wirsa sembari berterima kasih kepada Ketua Perdiknas Dr. AAN Eddy Supriyadinata Gorda, atas dukungan moril dan materil selama ia menempuh S3.

Mendapatkan ucapan selamat dari Ketua Perdiknas Dr. AAN Eddy Supriyadinata Gorda, usai Ujian Terbuka Promosi Doktor di FEB Unud.

 

Pada kesempatan yang sama, Promotor Prof. Dr. Wayan Gede Supartha, SE., SU., berharap, Wirsa segera berproses menuju guru besar meski usianya sudah tidak muda lagi. “Biasanya alumni kami cepat sampai profesor,” kata Suartha kepada lulusan ke-125 Prodi Doktor Manajemen FEB Unud itu.

Dekan FEB Unud Agoes Ganesha Rahayuda bertindak selaku Kopromotor I, Dr. I Made Artha Wibawa, SE., MM., Kopromotor II. Sedangkan Prof. Dr. IB Anom Purbawangsa, SE., MM., selaku Ketua Sidang.

AA Eddy Supriyadinata Gorda, yang turut hadir sekaligus sebagai undangan akademik, mengucapkan selamat kepada Wirsa. Kata Gung Eddy, sapaannya, Wirsa adalah contoh dosen yang bisa menjaga semangat dan mementingkan kenyamanan organisasi.

“Saya rasa ini menjadi inspirasi dosen-dosen muda yang belum atau sedang berproses S3. Kewajiban saya di yayasan hanya mensupport,” pungkas Gung Eddy. (gde)

 

 

Next Post

Kendalikan Stunting dari Makanan

Kam Jan 25 , 2024
Makanan menjadi faktor penting untuk mencegah stunting, khususnya pada usia 1000 hari pertama kehidupan (HPK).
cd371ca1-676a-4d2b-8110-9adab2b19620

Berita Lainnya