Unhi Kampus Inklusif, Dua Disabilitas Turut Diwisuda! Kini Siap Buka Magister Hukum

IMG-20260523-WA0021
Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar Rapat Senat Terbuka dengan agenda Wisuda di dalam area kampus, Denpasar, Sabtu (23/5/2026).

Sementara itu, dua lulusan Komang Agus Saras Sanitra dan Ni Luh Putu Ekayanti, tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Saras Sanitra berhasil menyandang sarjana pendidikan seni karawitan. Sementara Eka meraih sarjana pendidikan agama Hindu. 

Mungkin bagi sebagian orang, berhasil menyelesaikan studi sarjana merupakan hal biasa. Tapi tidak bagi Saras dan Eka. Sebab, bagi keduanya pencapaian menyelesaikan pendidikan sarjana penuh tantangan. 

Saras dan Eka merupakan disabilitas tunadaksa. Tunadaksa adalah kondisi disabilitas fisik yang memengaruhi fungsi tubuh, seperti gangguan gerak, koordinasi, atau hilangnya anggota gerak. Baik Saras dan Eka lahir prematur. 

Saras, pria asal Kerambitan, Tabanan ini, memilih Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Karawitan Keagamaan Hindu. Saras masuk tahun 2019. Karena berbagai keterbatasan, termasuk era Pandemi Covid-19 serta ayahnya yang menderita sakit sampai meninggal, ia baru menuntaskan pendidikan sarjana tahun 2026.

"Agak terlambat. Tapi hari ini saya bayar lunas. Benar-benar plong rasanya," jelas anak ketiga dari I Wayan Budiarta (alm) dengan Ni Made Suarni. 

Untuk sampai di titik ini, Saras mengaku tidak mudah. Ia mengaku bersyukur memiliki kakak dan teman-teman yang sangat membantu, terutama urusan antar-jemput kuliah ke kampus. "Kalau sudah mentok, saya naik ojek online. Saya tinggal bersama kakak di Dalung. Tapi kost juga deket kampus untuk mempermudah akses," kenang Saras. 

Setelah gelar sarjana pendidikan seni karawitan dalam genggaman, Saras bercita-cita menjadi guru kesenian. Ia sudah menaruh lamaran di sejumlah sekolah [SMP]. Selama menjadi mahasiswa, Saras aktif "megambel" hingga menjadi pembina seka gong di berbagai daerah, terutama wilayah Tabanan. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top