"Kita berkumpul di sini untuk membedah, memilah, dan merenungkan secara kritis sebuah karya akademik yang sangat berani dan tidak biasa," ungkap Shindu.
Kopromotor berpendapat, karya ini bukan sekadar susunan teks kualitatif-deskriptif yang dingin. Namun disertasi ini mewakili kegelisahan tentang bagaimana identitas, spiritualitas, dan kebudayaan bertahan hidup di tengah kepungan modernitas dan hegemoni keagamaan mayoritas.
"Ibu Naning memilih lokus penelitian yang sarat dengan anomali sosiologis, yaitu Kabupaten Gresik, sebuah wilayah di pesisir utara Jawa Timur yang secara historis dikenal kental dengan identitas kebudayaan Islam dan dijuluki sebagai “Kota Santri”. Namun di sanalah, di antara riuh rendah gema takbir dan syiar Islam, sekelompok kecil umat Hindu Jawa tetap teguh berdiri. Mereka hidup, beribadah, dan merawat tradisi leluhur dengan berpegangan erat pada selembar naskah klasik transisional yang penuh dengan misteri, kerahasiaan, dan pasemon: Sĕrat Manikmaya," imbuh Sindhu.
Menurutnya, untuk menjawab novelty karya tersebut, harus masuk ke dalam ranah epistemologis yang melatari lahirnya istilah teo-estetika itu sendiri.
Secara historis-filosofis, terdapat ketegangan ontologis yang cukup besar antara konsep “Estetika” dalam tradisi Barat dengan konsep “Keindahan” dalam tradisi spiritual Timur (khususnya Hindu-Jawa).
Estetika Barat, yang berakar dari pemikiran Alexander Baumgarten dan Immanuel Kant, cenderung meletakkan keindahan sebagai pengalaman sensorik-apresiatif yang otonom, sekuler, dan berjarak dari transendensi ilahi. [gde]










