Kemudian cerita itu dikembangkan oleh pengarang-pengarang berikutnya sehingga muncul versi berbeda yang pada akhirnya merujuk pada asal-usul geneologi Jawa raja. Cerita ini bertujuan melegitimasi bahwa seseorang layak menjadi raja. "Padahal awalnya serat manikmoyo hanya menceritakan Pulau Jawa," ungkapnya.
Naning juga mengungkap penelitiannya menghasilkan tiga temuan utama, yakni:
1. Pengayaan Teo-Estetika (Lêrês-Lurus-Laras): Konsep purwakanthi lërës-lurus-laras memperkaya teo-estetika Hindu (saryam-siwam-sundaram) dalam membedah nilai karya sastra mistis Jawa. Keindahan dan keharmonisan (sundaram/laras) yang membuahkan santa rasa (kedamaian) bersumber dari kebenaran (satyam/lêrês) dan diejawantahkan melalui kebaikan (śiwam/lurus).
2. Refleksi Kosmologis dan Sosio-Politik SM-K: Serat Manikmaya versi Karta Mursadah (SM-K) tidak hanya mengajarkan kosmologi dan laku Jawa, tetapi juga merefleksikan kondisi sosial-budaya serta dinamika politik Jawa pada era Kesultanan Mataram Islam.
3. Sastra Piwulang sebagai Jembatan Spiritual: Karya sastra piwulang Jawa berkedudukan sebagai kitab tinulis yang menghubungkan masyarakat dengan ajaran kehidupan tan tinulis dan kitab suci agama berdasarkan pengalaman estetis, pandangan dunia pengarang, serta realitas empiris.
Naning lantas mengusulkan beberapa saran. Pertama bagi pemerintah, ia menyarankan agar melakukan digitalisasi naskah. "Pemerintah, perpustakaan, museum, perguruan tinggi, dan komunitas budaya perlu menggalakkan digitalisasi naskah kuno guna memperluas akses publik melalui media daring maupun format inovatif seperti animasi dan visual 3D," sarannya.










