"Kehadiran peserta dari berbagai negara memberikan kesempatan bagi pengunjung dan pelaku usaha untuk melihat produk serta perkembangan terbaru dari pasar internasional. Tahun depan, kami pastikan jumlah UMKM yang terlibat akan meningkat dan diperluas ke sektor hospitality, seperti produsen sabun dan skincare untuk SPA," ujar Daud D. Salim.
Tulang Punggung Pariwisata dan Ekonomi Daerah
Sektor makanan dan minuman terbukti menjadi penggerak utama dalam menopang perekonomian dan daya tarik pariwisata Bali. Pemerintah Daerah Bali menyambut positif konsistensi penyelenggaraan ajang ini sebagai sarana optimalisasi produk lokal berbasis kearifan daerah ke pasar yang lebih luas.
Kontribusi sektor F&B terhadap perekonomian Bali sangat dominan, di mana sebagian besar pengeluaran wisatawan dialokasikan untuk kebutuhan kuliner. Oleh karena itu, kolaborasi antara ajang pameran kelas dunia dan pelaku usaha daerah menjadi kunci penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
"Bali dengan kunjungan wisatanya tidak bisa lepas dari dukungan UMKM lokal, khususnya yang bergerak di sektor makanan dan minuman. Melalui kegiatan ini, kami berharap konsumsi produk UMKM yang mengedepankan kearifan lokal bisa lebih dioptimalkan hingga mancanegara," sebut Staf Ahli Gubernur Bali bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan, Dr. I Wayan Ekadina, S.E., M.Si.
"Lebih dari 51 persen pertumbuhan Bali, 20 persen lebih itu berasal dari sektor makanan dan minuman. Artinya hampir 40 persen pembelanjaan wisatawan itu ke makanan dan minuman. Ini menjadi peluang besar Bali untuk menggenjot potensi UMKM," sambung Ketua BPD PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace).










