BANGLI-fajarbali.com | Coop Coffee Foundation bersama mitra strategisnya, SDG Impact Japan, melakukan kunjungan lapangan dan verifikasi terhadap proyek Pemulihan Kintamani di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bali. Langkah ini merupakan wujud nyata implementasi Peraturan Presiden (PP) Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) serta Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Proyek berbasis agroforestri hutan kopi milik petani lokal ini diarahkan sebagai Aksi Mitigasi Perubahan Iklim berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM) kerja sama Indonesia dan Jepang.
Kunjungan verifikasi di sektor hulu yang berlangsung pada Kamis (9/7/2026) ini bertepatan dengan momentum krusial di tingkat nasional. Di Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup resmi meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) dengan tema "Penguatan Ekosistem Pasar Karbon Indonesia". Agenda tersebut dihadiri langsung oleh jajaran menteri dan Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi. Strategisnya, proyek Pemulihan Kintamani kini telah resmi terdaftar sebagai salah satu proyek karbon NbS dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI).
Desa Catur sendiri merupakan desa percontohan (pilot project) program Tropical Landscape Grant Funding (TLGF) oleh lembaga lingkungan PBB (UNEP) yang diinisiasi sejak Oktober 2023. Hingga saat ini, program tersebut berhasil mencapai empat capaian utama, yaitu penguatan fungsi hutan kopi melalui penanaman pohon dan aktivasi Farmers Support Center, digitalisasi lahan, optimalisasi penyerapan gas CO2 atmosfer, serta peningkatan investasi bisnis hijau. Melalui kolaborasi Penta-Helix, Coop Coffee Foundation turut menggandeng rekan media untuk meninjau langsung efektivitas program di lapangan.










