Dari Kintamani untuk Dunia, Proyek Karbon Desa Catur Resmi Masuk Registri Nasional dan Bidik Pasar Jepang

Sinergi-hulu-hilir-kopi-organik-Kintamani-berbasis-ekonomi-hijau
Sinergi hulu-hilir kopi organik Kintamani berbasis ekonomi hijau.

Langkah strategis ini dimulai sejak fase hulu, di mana ketepatan dalam memilih varietas unggul dan jaminan ketersediaan bibit berkualitas menjadi fondasi utama. Seluruh proses pembibitan disesuaikan dengan proyeksi kebutuhan produksi jangka panjang yang mengacu pada analisis permintaan pasar global. Tidak hanya fokus pada kuantitas, para petani juga dibekali secara intensif melalui serangkaian pelatihan budidaya, adopsi digital monitoring, pengukuran emisi karbon, serta penguatan kapasitas kelembagaan tani secara berkala.

Memasuki fase pascaproduksi, para petani secara aktif membangun jaringan kemitraan dengan pasar dan menetapkan standardisasi kualitas yang ketat saat masa panen tiba. Praktik pemetikan yang baik (good harvesting practices) wajib diterapkan demi menjaga cita rasa sekaligus memastikan siklus keberlanjutan tanaman tetap terjaga. Melalui hilirisasi yang tepat, kopi tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah secara mandiri untuk menciptakan nilai tambah yang signifikan demi membuka akses pasar yang lebih luas dan kompetitif.

Wakil Kelian Subak Tri Karya Nadi sekaligus petani kopi Desa Catur, Made Sukayana, menjelaskan bahwa penerapan sistem pertanian organik terbukti memberikan dampak positif ganda, baik dari aspek ekonomi maupun kualitas hidup para petani di lapangan. "Pertanian organik memberikan saya bonus, selain pekerjaan, juga hidup sehat," ujarnya.

Saat ini, Sukayana secara mandiri mengelola lahan perkebunan kopi seluas 3 hektar yang menampung sekitar 4.000 pohon kopi, di mana pengawasannya dilakukan sejak tahap pembibitan hingga tanaman siap berbuah masal. Dari luasan lahan tersebut, produktivitas kebunnya mampu menghasilkan tonase yang cukup menjanjikan dalam sekali siklus panen besar. "Saat ini, saya juga kelola kebun kopi seluas 3 hektar atau 4.000 pohon mulai dari pembibitannya hingga siap berbuah, dengan produksi mencapai 2-3 ton biji kopi sekali panen," tambahnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top