
FOTO: KAMPANYE Percepatan Penurunan Stunting di Desa Bulian, Kubutambahan, Buleleng, Rabu (19/7/2023).
SINGARAJA – sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Meski prevalensi stunting di Provinsi Bali terendah di tingkat nasional dengan angka 8 persen, berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, namun edukasi terus dilakukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional bersama mitra Komisi IX DPR RI.
Edukasi atau kampanye pencegahan stunting ini sebagai bentuk antisipasi untuk menekan lagi angka prevalensi, bila perlu sampai nihil. Demikian dijelaskan Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana, di sela Kampanye Percepatan Penurunan Stunting di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Rabu (19/7/2023).
"Sebagai putra Buleleng, saya bersama mitra, BKKBN dan Kementerian Kesehatan ingin Buleleng menjadi percontohan nasional intervensi stunting dengan penekanan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat," jelas Kariyasa, dihadapan 400 lebih warga.

Kampanye yang dijadwalkan berlangsung di 25 titik se-Bali ini, kata Kariyasa, menjadi modal awal dalam intervensi prevalensi stunting yang menitikberatkan kolaborasi antara pemerintahan dan masyarakat.
Stunting, lanjut dia, sangat berpengaruh bagi tumbuh kembangnya perekonomian dan kesejahteraan negara. Karena stunting menyangkut sumber daya manusia (SDM).
"Apabila stunting teratasi dengan baik, niscaya Indonesia 2045 emas itu bisa terwujudkan dan sebaliknya apabila stunting masih besar akan sangat bahaya kelangsungan negara ini kedepannya," ujar legislator asal Kecamatan Busungbiu, Buleleng itu.










