JA Teline V - шаблон joomla Форекс
19
Thu, Oct
61 New Articles

SINGARAJA – Fajar Bali | Pembangunan beberapa imprastruktur yang akan dilaksanakan di Kabupaten Buleleng sepertinya terkena imbas status’awas’ Gunung Agung. Hal itu dirasakan oleh beberapa desa yang ada di Bumi Panji Sakti. Betapa tidak, akibat kelangkaan material untuk pembangunan seperti pasir berpengaruh terhadap pemanfaatan dana desa.

Dalam bulan ini ternyata kedua dana desa akan cair. Namun dana tersebut terancam tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Pasalnya harga yang dicantumkan saat penyusunan anggaran kini mengalami lonjakan yang snagat tingi. Bukan hanya itu status awas Gunung Agung menjadikan para penambang tidak bernai memasuki kawasan rawan hingga material menjadi langka.

Seperti yang diungkapkan Kades Bakti Seraga, Kecamatan Buleleng Gusti Putu Armada mengaku bingung akan kondisi yang terjadi saat ini.”Dalam profosal yang kami cantumkan harga seluruh material yang akan dibutuhkan namun sekarang harga material yang terjadi sangat melonjak tinggi sehingga kami tidak bisa menggunakan dana itu lantaran material yang kami butuhkan tidak sesuai dengan harga material sekarang,” ucapnmya.

Di satu sisi kedua Dana Desa akan cair. Program pembangunan pun sudah disetujui oleh masyarakat untuk segera dilaksnaakan. Namun harga material yang melambung tinggi hingga tigakalii lipat bahkan  kelangkaan material menjadikan persoalan baru yang harus segera diselesaikan.”Karena harga material ini yang menjadikan penghambat dalam pembangunan yang kami ajukan melalui profosal kemarin sehingga kami menjadi bingungdan harus bagaimana menyikapi semua ini,” lanjutnya.

Jika pekerjaan itu digarap dipastikan akan terjadi pengurangan volume. Sedangkan jika tidak digarap dana desa itu akan menjadi sisa lebih penggunaan anggaran atau SILPA. Armada mengibaratkan kondisi saat ini ibarat ayam  bertelur di padi mati kelaparan.”Kalau kami melakukan penggarapan tentu anggaran yang kami ajukan dengan anggaran yang kami butuhkan sangat jauh kurang dan bila dibiarkan ya tentu kami menjadi salah juga,” tuturnya.

Armada berharap Bupati Buleleng mengeluarkan peraturan bupati sebagai landasan dalam mengelola dana desa untuk pembangunan infrastruktur ditengah meningkatnya harga material saat ini. ”Yang menjadi harapan kami ya adanya peraturan dari pemerintah daerah utamanya dari pak bupati agar bisa mengeluarkan Perbup penyesuaian ditengah terjadinya peningkatan harga material yang terjadi,”harapnya.

Dikonfirmasi terpisah Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengaku akan segera membahas persoalan tersebut bersama Kades dan Dinas PMD.”Kami juga sudah memikirkan dengan adanya hal itu dan dalam waktu dekat kami juga akan segera berunding dengan melakukan rapat dengan seluruh kades atau kepala desa yang ada,” aku Suradnyana.

Salah satu solusi yang mungkin ditempuh adalah mengurangi volume pekerjaan. Itupun harus sesuai dengan prosedur didasarkan surat Gubernur bali serta dari BKP dan kejaksaan. Hal ini perlu agar tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari.”Ya dengan adanya itu kami juga mempunyai ancang-ancang untuk mengurangi volume pekerjaan namun hal itu harus penyesuaian dari Gubernur dan kejaksaan sehingga nantinya tidak ada persoalan dibelakang,” tegas Suradnyana saat dikonfirmasi, Rabu (18/10). W–008

SINGARAJA – Fajar Bali | Peristiwa mengenaskan kembali terjadi di Kabupaten Buleleng. Sebuah rumah permanen yang ada di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng tepatnya di Jalan WR Supratman nomor 29, Rabu (11/10) sekitar pukul 00.30 dinihari ludes terbakar. Tragisnya peristiwa kebakaran  rumah milik Liang Sanjaya Putra alias Aliang mengakibatkan dua sanak keluarganya tewas terpanggang lantaran terjebak kobaran api.

Kedua korban yang menjadi korban yakni Ketut Kimawati dan Anik Meliani. Mayat Ibu dan anak itu berhasil ditemukan di kamar mandi, karena diduga keduanya sempat berusaha menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam kamar mandi rumah tersebut.

Kapolsek Kota Singaraja Kompol Anak Agung Wiranata Kusuma membenarkan kejadian kebarakan tersebut. Menurutnya, dari keterangan saksi Ketut maliawan yang bekerja sebagai Security rumah itu, disebutkan bahwa peristiwa kebakaran terjadi diawali dengan suara ledakan dari dalam rumah. Dengan kondisi dalam rumah yang dipenuhi barang barang mudah terbakar, api pun dengan cepat membesar. ”Dari keterangan saksi yang merupakan seorang security mengaku mengetahui peristiwa kebakaran itu yang mana dimulai dengan adanya ledakan di dalam rumah kemudian dikatakan api sangat cepat membesar dan membakar seluruh seisi rumah,” katanya.

Hingga saat ini Polsek Kota Singaraja, masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran. Bahkan, tim Labforensik Polda Bali sudah turun langsung, pada Rabu (11/10) siang untuk melakukan penyelidikan. Sejumlah sampel sudah diambil untuk di uji di Labfor Denpasar. Meski begitu, untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran, kini masih menunggu hasil labfor.

Proses pemadaman api oleh Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Buleleng berlangsung selama tiga setengah jam. Dinas PMK sendiri mengerahkan lima unit mobil pemadam, masing masing dua unit dari Pos induk, satu unit dari Pos Kubutambahan, dan dua unit dari Pos Seririt. ”Tiga setengah jam api dapat kita padamkan dengan mengerahkan sebanyak lima mobil dan menghabiskan sebanyak 15 tengki air,” jelas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Buleleng Gede Sugiartha Widiada.

Saat peristiwa kebakaran, di rumah itu terdapat 5 orang yakni, satu orang satpam bernama Ketut Maliawan (46) warga Kelurahan Banjar Bali, 1 orang pembantu bernama Nengah Tunjung (42) warga Kelurahan Kampung Baru, 1 orang anak bernama Hanna Suila Agustin (12) yang tak lain anak angkat Aliang, orang tua Aliang bernama Ketut Kimawati (75) dan adik aliang bernama Anik Meliani (46).

Kasubag Humas RSUD Buleleng, Ketut Budiantara mengatakan, untuk jenazah Kimawati menderita luka bakar sebesar 70 persen. Sedangkan, jenazah Anik Meliani menderita luka bakar sebesar 90 persen.”Untuk jenazah Kimawati dari bagian kepala sampai badan utuh. Kakinya saja yang terbakar. Sedangkan, untuk jenazah Anik Meliani terbakar rata di seluruh tubuh,”unngkap Budiantara. Hingga berita ini ditulis rumah korban terbakar masih di pasangi polis line dan dilakukan penjagaan dari oknum kepolisian. W–008

SINGARAJA–Fajar Bali | Dua ibu hamil yang berasal dari Banjar Dinas Belong, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem melahirkan bayi saat mengungsi di wilayah Buleleng, Senin (25/9). Sayang, satu bayi meninggal saat dalam kandungan.

Dua ibu hamil ini dirujuk langsung dari Puskesmas Tejakula I menuju RSUD Buleleng untuk mendapatkan pelayanan medis yang tepat. Namun sayang satu diantara dua bayi dinyatakan meninggal dunia dalam kandungan. Bayi yang meninggal itu yakni milik pasangan Kadek Witama (18) dan Ni Luh Sekar Dwipayani (17) warga Banjar Dinas Belong, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem.

Bayi Sekar yang dinyatakan meninggal dalam kandungan kini berumur 25 minggu, merupakan buah cinta pertama keduanya. Pasangan muda yang baru menikah sebulan ini, baru mengetahui anaknya sudah tiada, saat tiba di pos pengungsian Minggu (24/9) sekitar pukul 09.00 wita dan memeriksakan diri di posko kesehatan tenda pengungsian di Desa Les, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Ia yang ditemui di ruang persalinan RSUD Buleleng, didampingi suaminya nampak masih lemas menahan kontraksi akibat obat perangsang yang diberikan tim medis, untuk mengeluarkan janin dalam kandungannya yang sudah tak bernyawa. Hanya saja menurut penuturan Witama, istrinya sudah tidak merasakan gerakan bayi dalam kandungannya sejak berangkat mengungsi dari rumahnya di Desa Ban menuju Desa Tembok.

”Istri saya sudah tidak merasakan gerakan bayi di perutnya, saat sampai di tempat mengungsi langsung diperiksakan ke pos kesehatan, padahal sebelumnya dalam kondisi baik-baik saja, di rumah juga tidak ada kerja berat,”katanya.

Saat tiba di Puskesmas Tejakula I dan diperiksa dokter jaga, Sekar langsung dirujuk ke RSUD Buleleng dan memberitakan bahwa bayi dalam kandungannya sudah meninggal dunia. Rencananya setelah anak pertamanya lahir, Witama berencana akan langsung membawanya ke Desa Ban, jika situasi memungkinkan dan langsung dikubur dan diupacarai.

”Kemungkinan kalau lahir hari ini atau besok, kalau memungkinkan langsung dibawa pulang dan dikubur, kebetulan di rumah masih ada keluarga yang belum mengungsi,”ungkapnya.

Berbeda dengan Sekar, ibu hamil Wayan Neka (32) yang berasal dari banjar dan desa yang sama melahirkan dengan selamat anak keenamnya. Ia yang sejak Kamis (21/9) lalu mengungsi di rumah saudaranya di Banjar Dinas Gretek, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula Buleleng, merasakan kontraksi pada kehamilannya yang sudah memasuki usia sembilan bulan pada Minggu (24/9) petang kemarin. Ia yang diantar suaminya Ketut Masa (35) ke Puskesmas Tejakula I, juga langsung dirujuk ke RSUD Buleleng saat itu juga.

”Sakitnya sudah sejak pagi jam sembilan, terus saya diajak periksa ke Puskesmas, malah dirujuk kesini,”ujar Neka yang ditemui di ruang persalinan RSUD Buleleng.

Sementara itu Dirut RSUD Buleleng, dr Gede Wiartana mengatakan hingga saat ini RSUD Buleleng baru menerima tiga pasien dari pengungsi dan semuanya adalah ibu hamil. Disinggung soal kematian janin dalam kandungan Sekar, dari hasil analisis medisnya pihaknya belum dapat memastikan penyebab pastinya. Tetapi Wiartana menegaskan bahwa kematian bayi dalam kandungan Sekar tidak ada hubungannya dengan erupsi Gunung Agung.

”Dari segi fisik ibu bayi dalam keadaan sehat dan tenang, secara psikis juga tidak stres, jadi belum dapat diketahui pasti penyebab kematian bayi dalam kandungan. Secara medis memang dapat disebabkan beberapa faktor, bisa dari ibunya atau dari bayinya yang mungkin ada kelainan,” jelasnya. Hingga sore kemarin Sekar masih menjalani masa induksi untuk mendorong bayinya keluar. Hanya saja menurut Wiartana hingga sore kemarin belum ada tanda-tanda bukaan di jalan lahir secara normal pada pasien. W-008

SINGARAJA – Fajar Bali | Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Singaraja, Rabu (11/12) mendadak ramai diserbu puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Panji, Kecamatan Sukasada yang mengalami keracunan. Sekitar 31 siswa SDN 5 Panji harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami keracunan usai menyantap nasi yang dijual di kantin sekolah.

 Menurut informasi para siswa yang biasanya tiba disekolah pagi langsung menuju kantin guna membeli nasi bungkus guna sarapan. Dimana nasi bungkus dengan harga Rp 2000 itu cukup untuk mengganjal perut para siswa hingga jam istirahan pertama. Namun sayang puluhan siswa yang sempat menyantap nasi bungkus yang isinya nasi, mie, telor dan sambel itu membuat para siswa mual-mual dan mengalami pusing yang disertai muntah akibat keracunan makanan. Terlihat puluhan siswa dari semua kelas yang ada di sekolah dasar itu datang ke IGD RSUD Singaraja dengan kondisi lemas guna mendapatkan perawatan medis.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Buleleng Gede Suyasa langsung datang ke IGD guna melihat secara langsung yang dialami para siswa keracunan.”Saat pagi sampai saya tiba di sekolah saya langsung membeli nasi yang ada di kantin sekolah. Usai saya makan nasi saya langsung menuju kelas guna mengikuti pelajaran tapi sampai di kelas saat saya belajar saya merasakan pusing dan mual-mual kemudian saya muntah. Terus saya diajak ke sini (IGD-red),” ungkap Kadek Rian, siswa kelas 5 yang menjadi korban keracunan.

Nyoman Surya Kencana siswa kelas 4 yang juga menjadi korban keracunan, mengaku, membeli nasi bungkus yang berisi mie goreng di kantin sekolah disaat jam istirahat sekolah. Setelah itu, Surya pun merasakan pusing dan muntah.”Ya saat itu saya membeli nasi seusai jam istirahat pertama kemudian saya mengalami pusing dan muntah,”akunya.

Salah satu orang tua siswa Gusti Ayu Ariani sempat kaget karena melihat ada ambulance yang datang ke sekolah, mengingat jarak rumahnya dan sekolah cukup dekat. Ia pun langsung mendatangi anaknya untuk mengetahui kondisinya. Sampai disekolah pihaknya juga melihat kalau anaknya mengalami lemas dengan muntah-muntah.

Kepala SDN 5 Panji Kecamatan Sukasada Gusti Bagus Ngurah Suradnyana menjelaskan, kantin yang ada di sekolah tersebut dikelola secara bergantian oleh guru di sekolah setempat. Selama ini, sistemnya guru yang menyediakan makanan yang dijual, kemudian untuk menjual makanan dan mengelola dilakukan petugas jaga dikantin yang ditunjuk pihak sekolah.”Kalau hari ini, memang ada 50 nasi bungkus yang dijual, dan semuanya habis terjual. Itu memang system kantinnya guru sebagai penyedia makanan, kalau petugas kantin itu ada orang yang ditunjuk,” Jelasnya.

Kejadian itu diketahui pertama kali sekitar pukul 08.30 wita. saat itu ada satu orang siswa kelas satu yang mengalami pusing dan mutah muntah. Siswa itu pun langsung dilarikan ke RSUD Buleleng.”Memang sebagian besar ada anak-anak yang masuk lebih pagi, dan sebelum masuk kelas anak anak biasa belanja dulu. Kejadiannya itu awalnya ada satu orang yang pusing dan muntah. Kamudian ada banyak siswa yang mengalami gejala yang sama,”Ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng Gede Suyasa langsung melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Buleleng untuk melakukan pengecekan terhadap makanan yang dijual di kantin sekolah tersebut. Pengecekan itu dilakukan dengan mendatangi rumah guru yang menjadi penyedia makanan yang dijual dikantin sekolah.”Sementara dugaannya belum bisa disampaikan, karena masih di cek oleh Dinas Kesehatan ke rumah yang menjual nasi. Untuk memastikan makanan apa yang kira-kira menjadi penyebab keracunan ini,” ujar Suyasa, sembari mengingatkan sekolah untuk lebih memperhatikan kesehatan makanan yang dijual di kantin sekolah. Apalagi, peristiwa keracunan yang terjadi kali ini kata Suyasa merupakan peristiwa ke tiga di tahun 2017. W–008

SINGARAJA – Fajar Bali | Arus pengungsi dari kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Agung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buleleng terus meningkat setelah adanya peningkatan aktivitas Gunung Agung hingga mencapai level awas. Jumlahnya pun sudah mencapai ribuan orang.

Guna memantau dan juga mengidentifikasi kebutuhan di titik-titik pengungsian, Wakil Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengunjungi para pengungsi yang ada di Desa Les dan Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Minggu (24/9).

Wakil Bupati asal Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan ini menjelaskan kunjungannya kali ini ke titik-titik pengungsian di Desa Les dan Desa Tembok untuk memantau kondisi terkini dan mengidentifikasi segala hal yang dibutuhkan di pos-pos pengungsian. Hal ini sesuai dengan instruksi Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, untuk menyediakan seluruh keperluan pengungsi baik itu logistik maupun akomodasi agar pengungsi dapat hidup layak.

”Kita juga mengidentifikasi apa yang diperlukan pengungsi dalam kunjungan ini sesuai dengan instruksi Bapak Bupati,” jelas Sutjidra.

Selain itu, yang penting adalah pendidikan. Banyak anak yang meninggalkan sekolahnya untuk ikut mengungsi ke wilayah Buleleng. Di samping itu, Dinas Pendidikan juga akan mengerahkan guru PAUD untuk menghibur para anak-anak di pengungsian. Ini menjadi sangat penting untuk mengembalikan mental dan psikolog anak-anak tersebut. ”Dinas Pendidikan akan mengerahkan guru PAUD untuk mengembalikan psikologi anak-anak yang ada di pengungsian,” ujar Sutjidra.

Untuk logistik, Wabup Sutjidra sangat mengapresiasi seluruh komponen masyarakat di Bali dan di Buleleng pada khususnya yang telah membantu saudara-saudara yang ada di kamp pengungsian baik itu atas nama pribadi dan organisasi. Semua memberikan bantuan secara ikhlas. ”Ini berarti rasa simpati dan peduli sesama warga Bali yang terkena bencana dan dampak dari akan adanya erupsi Gunung Agung ini,” imbuhnya. W–008