Ade Wirawan, nara sumber dari Pusbisindo, mengungkapkan, masih banyak yang keliru dan tidak paham dengan budaya tuli. Orang tuli pada dasarnya sama dengan manusia lain yang tidak tuli, hanya saja menggunakan bahasa isyarat. "Disabilitas tuli bukan hambatan fisik, tapi hambatan lingkungan dan sistem layanan kesehatan," tegas Ade.
Ade mengungkapkan sejumlah data mencengangkan. Disabilitas tuli di Indonesia lebih dari 2,5 juta orang. Data juga menunjukkan mayoritas responden tuli lebih dari dua pertiga (66,4 %) terindikasi mengalami masalah kesehatan mental. Ini menandakan adanya persoalan akses dan sistem layanan yang belum inklusif.
Ke depan, ia berharap tenaga-tenaga kesehatan dibekali skill bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi bagi disabilitas tuli. Ade juga memaparkan, belajar bahasa isyarat memiliki banyak manfaat. Di antaranya, memperkaya ekspresi, memperluas jaringan, komunikasi tanpa hambatan serta menyeimbangkan otak kanan dan kiri.
Pada seminar itu, Ade juga mengajarkan praktik bahasa isyarat. Peserta tampak antusias karena terlibat langsung dalam interaksi. Isyarat yang diajarkan mulai dari hal paling sederhana, misalnya memanggil seseorang disabilitas tuli, caranya dengan menepuk halus pundaknya.
Jika mengobrol mesti saling bertatapan dengan tetap menjaga kontak antar-mata. Ade mengatakan bahasa isyarat di setiap daerah atau negara berbeda-beda layaknya bahasa umum.
Ade berhasil membuktikan diri dengan keterbatasan pendengaran, ia mampu mengenyam pendidikan tinggi serta membangun karir.










