Diharapkan juga setelah seminar ada perhatian khusus dari pemangku kebijakan untuk menghadirkan layanan umum yang ramah tuli. Kuncinya ada pada penguatan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi utama mereka.
Rektor UBAD Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sucipta, MP., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. UBAD, menurutnya, selalu membuka ruang kolaborasi bagi semua pihak guna memberikan kontribusi atau dampak nyata bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Seminar kali ini juga dijadikan momentum inspirasi bagi komunitas tuli agar tetap semangat menggapai cita-cita. "Saya katakan hidup ini indah. Mereka (tuli) pasti tidak meminta dilahirkan seperti itu. Kalau bisa memilih pasti minta sempurna. Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan. Tuhan Maha Adil," jelas Rektor Prof. Sucipta.
Pihaknya mendorong agar di setiap fasilitas umum ada fasilitas petugas bahasa isyarat. Hal ini bertujuan agar layanan bersifat inklusif dan adil bagi semua.
Sementara itu, salah satu nara sumber Agung Yunita, memastikan bahwa anak tuli juga berpotensi besar meraih cita-cita yang diharapkan. Karenanya ia berharap dukungan keluarga terus diberikan. "Banyak kok anak-anak tuli yang hebat," jelas Agung Yunita.
Agung Yunita mencoba mengajak melihat dari perspektif berbeda, bahwa tuli justru sebuah kelebihan. Karena jika ada salah satu fungsi panca indra yang kurang, maka fungsi indra lain pasti ada kelebihan. Itulah yang mesti dimaksimalkan, bukan malah merasa menjadi orang gagal.










