Sepanjang sastra memuat nilai yang universal selama itu masyarakat menjadikan sastra sebagai sumber kehidupan. Nilai universal menonjol dalam sastra Bali tradisi. Karya sastra Bali tradisi dalam sejarahnya telah menjadi bagian yang melekat dan menjadi identitas masyarakat Bali.
"Dilihat dari bentuknya sastra Bali tradisi dibedakan menjadi tiga, yaitu gancaran (prosa), tembang/ Geguritan (puisi), dan palawakya (prosa berirama menggunakan berbahasa Jawa Kuno). Dari ketiga jenis sastra Bali tradisional ini, tembang merupakan bentuk sastra yang paling populer diapresiasi oleh masyarakat di Bali. Hampir dalam setiap kegiatan di Bali tembang (puisi) selalu dilantunkan," imbuhnya.
Turut hadir pada upacara pengukuhan guru besar tersebut, Ketum PGRI Prof. Unifah Rosidi, Ketua PB PGRI Prof. Sukardi, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, SH., MH., M.Pd., Kepala LLDikti VIII Dr. Gusti Bagus Lanang Eratodi, MT., Ketua APTISI Bali, Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta se-Bali, keluarga, kerabat dan undangan lainnya. (Gde)










