Usia tiga tahun ditinggal sang ayah, Nyoman Buda. Kini disusul sang ibu. Belum lagi harus mengurus dua adik kembarnya. Tentu sangat memukul. Dia sempat mengalah. Kuliah di Singaraja ditinggalkan.
Hanya satu pesan mendiang ibunya yang tak pernah dilupakan; tetap kuliah. Jadilah pegawai. Dan, cari istri pegawai juga. De Su pun bangkit. Memulai lembaran baru. Melanjutkan kuliah di IKIP PGRI Bali sembari menjadi pegawai di kampus baru itu berkat tuntunan salah satu pendiri, Redha Gunawan (alm).
De Su tak malu mengakui jika ibu tercintanya itu buta huruf. Namun tidak buta akan masa depan buah hati yang keluar dari rahimnya. Dengan segala keterbatasannya, tanpa suami, mendiang Nyoman Rening sanggup membesarkan bahkan menyekolahkan anak-anaknya.
"Cara beliau merawat kami anak-anaknya, sangat sederhana tapi penuh cinta kasih. Beliau ingin anak-anaknya sukses, sehingga dalam otaknya hanya kerja, kerja, kerja untuk anak," kenangnya.

Oleh karenanya, De Su mendedikasikan capaian tertinggi sebagai dosen ini untuk kedua orangtuanya di surga. Selain untuk institusi, masyarakat bangsa dan negara.
Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, SH., MH., M.Pd., juga tak bisa menyembunyikan kebanggannya. De Su adalah produk asli UPMI. "Beliau memulai karir dari pegawai bawah. Merangkak jadi dosen, hingga rektor. Jadi benar-benar dari bawah," kata Arthanegara.
Kehadiran tiga guru besar tetap dalam kurun waktu berdekatan ini, kata Arthanegara, membuat UPMI lebih percaya diri meningkatkan eksistensi di tengah masyarakat. Ke depan, tinggal mendorong dosen-dosen lain yang telah mengantongi syarat ke guru besar.










