Dalam orasi ilmiahnya, De Su menegaskan, bahwa pendidikan mempunyai dua fungsi utama, yakni "transfer of value" dan "transfer of knowledge". Pendidikan dengan fungsi transfer of value bertujuan untuk menghumanisasikan peserta didik.
Menurut akademisi yang juga berkecimpung di dunia tarik suara ini, salah satu proses humanisasi dapat dilakukan melalui pengajaran apresiasi sastra. Humanisasi melalui apresiasi sastra perlu menjadi prioritas untuk menciptakan peserta didik yang berkarakter, beradab, bermartabat, cinta budaya dan tanah air.
"Karya sastra merupakan representasi nilai masyarakat yang dapat dijadikan landasan konstruktif pembentukan karakter manusia. Tujuan sastra pada hakikatnya adalah memperbaiki kehidupan dan menyebarkan nilai-nilai manusiawi," katanya mengutip pandangan Barry.
Sebelum diktat, buku teks, dan modul terlahir, teks kesusastraan telah menjadi sumber pengetahuan dan memberikan sumbangan penting bagi tumbuh kembang manusia. Sastra dapat dikatakan sumber pengetahuan yang paling tua di dunia, di dalamnya terdapat nilai (moral dan etika).
Sastra dapat dipandang dari dua sisi, yaitu artistik dan muatan. Dari perspektif muatan, karya sastra memiliki fungsi sebagai sumber pengetahuan sosial, budaya, sejarah, religi, dan sebagainya. Sastra menyajikan menu kebenaran melalui medan keindahan bahasa yang tidak dapat ditemukan dari sumber pengetahuan lainnya.
Berdasarkan pendapat, Damono, lanjut Suarta, sastra adalah mesin reproduksi nilai, keyakinan, dan norma-norma yang disepakati masyarakat. Nilai dalam karya sastra tercermin dari lakon atau kisah yang kerap menjadi kontrol perilaku sosial. Nilai dapat menjadi roh yang menjiwai karya sastra.










