Pemulihan Ekonomi Bali Belum Optimal, HIPMI Sarankan Empat Solusi

DENPASAR-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Bali membuat okupansi (tingkat hunian) hotel mengalami pertumbuhan di penghujung tahun 2021 lalu. Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali, Agus Pande Widura mengakui telah terjadi pergerakan okupansi hotel selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) terutama untuk wisatawan domestik.

Rata-rata okupansi 10 sampai 20 persen. Tetapi itu diakuinya belum break event point (titik impas). Karena break event point untuk perhotelan di okupansi 35 sampai 40 persen.

  Pande Widura berharap tidak ada regulasi yang berekses negatif. Ia mengingatkan, selama ini kontribusi Bali kepada pemerintah pusat sangat signifikan per tahunnya. Berkaca dari data, Pulau Dewata menyetor setidaknya Rp75 triliun untuk devisa negara. "Saya rasa, memang Bali tidak harus dianaktirikan dalam hal ini. Tentu kita mengusulkan, pemerintah pusat memberikan perlakuan khusus bagi Bali. Perlakuan khusus itu dapat diwujudkan dengan empat kebijakan nyata," ujarnya, Senin (3/1/2022).

  Pihaknya menjabarkan, bahwa kebijakan pertama adalah relaksasi pajak. Ia menyarankan Pajak Penghasilan/PPh25 dan PPh21 itu untuk sementara Bali diberikan kelonggaran untuk cuti bayar. Karena itu akan mempermudah untuk menjalankan bisnis ke depan, dan mendukung upaya pemulihan ekonomi. Kebijakan kedua yaitu subsidi pembayaran tagihan listrik. Jika memungkinkan diberikan subsidi sampai 50 persen khusus Bali, yang dapat dikaji ulang ketika keadaan membaik. Itu sangat membantu, daripada diberikan hibah.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top