Pembahasan dipandu oleh Corporate Communication Director Kompas, Glory Oyong sebagai moderator. Dari perspektif akademik, Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., menilai juru bicara harus ditempatkan di arus utama perubahan sosial dan harus mendapatkan akses langsung kepada pimpinan institusi.
Selama juru bicara tidak mendapatkan akses langsung, maka juru bicara hanya ada dalam peran simbolik yang tidak memiliki dampak signifikan. Menjadi juru bicara membutuhkan proses internalisasi, dengan memahami peta pikiran dan prioritas pesan yang ingin disampaikan.
Perspektif pemerintah disampaikan oleh Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media
Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Fifi Aleyda Yahya. Pandangan yang disampaikan membahas salah satu kekuatan buku ini yaitu keberhasilannya menggeser cara pandang terhadap juru bicara.
Juru bicara tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai orang yang menyampaikan pernyataan resmi, melainkan sebagai personifikasi institusi, penerjemah kebijakan, penghubung antara pemerintah dan masyarakat, bahkan sebagai arsitek kepercayaan publik.
Sementara itu, Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto membawa perspektif korporasi dan praktisi komunikasi publik, bahwa juru bicara menemukan makna terdalamnya.
Ia berpandangan, juru bicara bukan lagi sekadar orang yang berdiri di depan podium, membaca pernyataan resmi, atau menjawab pertanyaan media. Ia telah berkembang menjadi pemimpin makna (leader of meaning), penjaga legitimasi organisasi, penghubung antara kepemimpinan dan masyarakat, sekaligus penjaga kepercayaan yang menjadi aset paling berharga bagi setiap institusi.










