Mengupas Tantangan Juru Bicara di Era Disrupsi

IMG-20260912-WA0028
Bedah buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi, karya Prof. Marlinda Irwanti Poernomo dan Benny Siga Butarbutar MSi., di Antara Heritage Center, Jakarta, pada Jumat (11/9). foto:fb/ist/dok.

*Buku yang diterbitkan Rajawali Pers tersebut mengulas perkembangan peran juru bicara dalam menghadapi perubahan lanskap komunikasi politik dan publik di era digital.

DENPASAR-fajarbali.com | Di era disrupsi, perkembangan teknologi digital dan perubahan pola komunikasi publik membuat peran juru bicara semakin strategis. Juru bicara tidak lagi sekadar bertugas menyampaikan pesan pimpinan, tetapi juga dituntut mampu mengelola komunikasi strategis, membangun kepercayaan publik, serta merespons dinamika informasi yang berkembang cepat. 

Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam peluncuran dan bedah buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi, karya Prof. Marlinda Irwanti Poernomo dan Benny Siga Butarbutar MSi., di Antara Heritage Center, Jakarta, pada Jumat (11/9). 

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari, menilai peran juru bicara semakin penting di tengah lanskap komunikasi yang telah berubah secara fundamental. 

Kata Qodari, ketika masyarakat memperoleh informasi dari semakin banyak kanal dan tingkat kepercayaan terhadap berita menghadapi tantangan, komunikasi pemerintah tidak dapat lagi dipandang sekadar sebagai aktivitas penyampaian informasi.

“Dalam ruang media seperti itu, diam bukanlah sikap netral. Ruang informasi tidak pernah kosong. Ketika negara tidak menjelaskan kebijakannya, selalu ada pihak lain yang akan menjelaskan versi mereka,” ujar Qodari, dalam keterangannya.  

Qodari juga menekankan, satu suara tidak berarti seluruh komunikasi harus disampaikan oleh satu orang, melainkan adanya konsistensi dalam angka, istilah, fakta, dan narasi yang disampaikan pemerintah.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top