Menbud Fadli Zon Ingin Utsawa Bali Sani UNHI Berkelanjutan 

IMG-20260924-WA0073
Pembukaan Utsawa Bali Sani (UBS) UNHI Denpasar ke-11 Tahun 2026 oleh Menbud RI Fadli Zon didampingi Rektor dan jajaran, Kamis (24/9) malam. ist

DENPASAR-fajarbali.com | Di bawah kepemimpinan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar yang baru, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si., program unggulan Utsawa Bali Sani (UBS) akhirnya kembali digelar setelah puasa enam tahun akibat hantaman Pandemi Covid-19 serta tantangan lain. 

Menariknya, UBS ke-XI ini dibuka langsung Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira, Kampus Unhi Denpasar, Kamis (24/9) malam.

UBS XI yang menyuguhkan tema “Prabhā Niti Widyā Sani Prawartana”, menurut Fadli Zon memiliki pesan penting mengenai keterkaitan pengembangan ilmu pengetahuan dan seni. Keduanya, dikatakan, tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dari kebudayaan yang telah tumbuh di Nusantara.

Kata dia, program tersebut berpeluang mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan melalui program pendanaan bagi individu, seniman, budayawan, dan komunitas. Ia menyebut anggaran fasilitasi kebudayaan yang tersedia pada 2026 mencapai sekitar Rp500 miliar.

"Kehadiran saya dalam UBS UNHI menjadi kali pertama sebagai Menteri Kebudayaan. Saya menyambut positif kembali digelarnya UBS setelah sempat terhenti selama enam tahun. Semoga digelar terus. Berkelanjutan," harapnya. 

Dukungan tersebut karena UBS menjadi ruang perjumpaan yang menumbuhkan kesadaran bahwa kebudayaan merupakan bagian yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Pelaksanaan yang konsisten mesti dibarengi dengan perkembangan sebagai ruang apresiasi, dialog, penciptaan karya, sekaligus bagian dari upaya pemajuan kebudayaan Indonesia, khususnya Bali.

Lebih lanjut ia juga mendukung program-program studi langka yang dikelola UNHI. “Ke depan saya kira kita bisa ada atensi khusus, terutama kalau menyangkut bidang-bidang yang kurang tersentuh. Misalnya pengobatan tradisional, ayurveda, dan juga yang lain-lain,” ujar dia. 

Rektor Cokorda Bayu Putra, dalam sambutannya menegaskan, kembalinya UBS memiliki arti penting bagi perjalanan UNHI yang akan memasuki usia ke-63 tahun pada 3 Oktober 2026.

BACA JUGA:  BPCB dan Balai Arkeologi Bali Turun, Amati Penemuan Sarkofagus di Desa Tegallinggah

Rektor berpandangan, sejarah UNHI tidak terlepas dari gagasan para cendekiawan Hindu untuk membangun lembaga pendidikan tinggi Hindu. Gagasan tersebut antara lain tercermin dalam Piagam Campuhan yang lahir dari pertemuan Dharma Asrama di Campuhan, Ubud, pada 1961.

Komitmen tersebut kemudian diwujudkan dengan berdirinya Mahawidya Bhawana Institut Hindu Dharma (IHD) pada 3 Oktober 1963. Lembaga tersebut kemudian bertransformasi menjadi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) pada 1993.

Menurutnya, Unhi hingga kini tetap berpegang pada pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan. Hal itu menjadi komitmen moral dan intelektual lembaga, sekaligus bagian dari upaya menjaga marwah Unhi sebagaimana cita-cita para pendirinya.

Dalam konteks pemajuan kebudayaan, lanjut Cokorda Bayu Putra, UBS menjadi salah satu wujud nyata komitmen tersebut. Festival ini pertama kali digelar pada 2010 atas gagasan Rektor Unhi saat itu, Prof. Yudha Triguna yang kini menjadi Ketua Senat sekaligus kurator UBS 2026.

Ia menambahkan, UBS tidak sekadar diarahkan sebagai festival seni, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan seni.

“Semangat ngayah dalam berkesenian berpotensi hilang ketika aktivitas seni mulai diatur secara masif oleh hukum-hukum pasar. Karena itu muncul semangat untuk tetap mempertahankan budaya ngayah,” ujarnya.

Seni dalam konteks kebudayaan Bali, lanjut rektor, tidak hanya berbicara mengenai keindahan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan rasio dan rasa. Prinsip tersebut kemudian tercermin dalam tema UBS 2026.

Cokorda Bayu Putra mengaitkan konsep tersebut dengan nilai Satyam, Siwam, Sundaram. Satyam dimaknai sebagai kebenaran, Siwam sebagai kesucian atau kebaikan, sedangkan Sundaram sebagai keindahan. Ketiganya menjadi landasan dalam melihat seni sebagai bagian dari kehidupan dan kebudayaan.

BACA JUGA:  Lima Perupa Pamerkan 22 'Treasure'

"Melalui Festival Utsawa Bali Sani, kita tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga menjadikan kampus perguruan tinggi sebagai benteng kelestarian budaya, sekaligus laboratorium inovasi seni,” pungkasnya.

Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Kol. Purn. Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil., menambahkan, pihaknya mengapresiasi kehadiran Menbud Fadli Zon yang membuka UBS 2026.

Dewa Budiana berpendapat, kembalinya UBS setelah vakum enam tahun bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah festival seni, melainkan menjadi momentum menghidupkan ruang ekspresi spiritual, edukatif, dan kultural melalui seni.

“Pendidikan dan kebudayaan merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Pendidikan tanpa akar budaya akan kehilangan identitas, sedangkan budaya tanpa sentuhan pendidikan akan sulit beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tegas Dewa Budiana.

UBS akan berlangsung hingga 29 September 2026 dengan mengusung tema “Prabhā Niti Widyā Sani Prawartana”, yang dimaknai sebagai “Semangat Bersama Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Seni”.

Kembalinya UBS sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-63 Universitas Hindu Indonesia Denpasar. Pembukaan UBS 2026 juga diisi penampilan karya Adi Gurnita “Padma Hredaya”, atraksi seni pencak silat Bali dari PSPS Bakti Negara, serta pameran lukisan karya perupa Unhi dan pameran lontar koleksi Unhi.

Pameran tersebut ditinjau langsung Menbud Fadli Zon di Gedung Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya Unhi. Turut hadir Gubernur Bali diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta undangan lain. [gde]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top