Lantern Festival, Pererat Kerja Sama TCI Unud dengan Poltekpar Bali

Pariwisata China berbasis teknologi, sehingga Indonesia wajib mengimbanginya agar tidak dijadikan ‘bulan-bulanan’ seperti peristiwa tahun 2019 lalu.

 Save as PDF
(Last Updated On: 23/02/2024)

Para pimpinan TCI F. Par Unud, Poltekpar Bali, dan jajaran masing-masing.

MANGUPURA-fajarbali.com | Puluhan lampion berwarna merah yang diyakini sebagai penerang rezeki dan ornamen khas Tiongkok lainnya menghiasai Aula Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali, Jumat (23/2/2024).

Atraksi wushu dan barong sai menambah semarak Lantern Festival 2024, siang itu, yang digelar oleh Tourism Confucius Institute (TCI) Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (F. Par Unud).

Direktur TCI F. Par Unud Dr. I Made Sendra, M.Si., mengungkapkan, lantern festival merupakan rangkaian dari spring festival menyambut Hari Raya Imlek. Lantern festival dikenal juga dengan Cap Go Meh. Cap Go Meh termasuk tradisi Imlek yang dilaksanakan pada tanggal ke-15 bulan pertama tahun baru Imlek.

“Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 sekaligus penutupan perayaan tahun baru Imlek. Cap artinya sepuluh, go lima dan meh malam. Jadi maknanya perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari dan ditutup dengan Cap Go Meh,” jelas Sendra.

Menurut Sendra, setiap perayaan dalam siklus tahunan masyarakat Tiongkok secara umum dirayakan sebagai pesta rakyat. Tiongkok atau China pada masa lalunya adalah masyarakat agraris, sama dengan Indonesia, khususnya lagi Bali.

Di Bali, tepatnya di Desa Kapal, Mengwi, Badung, ada juga perang ketupat yang mencirikan masyarakat agraris. Dalam konteks ini, hubungan kebudayaan Bali dengan China semakin ditemukan kemiripan.

Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, lanjut Sendra, lantern festival di Kampus Poltekpar Bali, Nusa Dua, Badung, itu merupakan implementasi dari kerja sama yang telah dijalin antara TCI F. Par Unud dengan Poltekpar Bali.

Penampilan barong sai menyemarakkan Lantern Festival 2024.

Pihaknya memang menyasar sekolah-sekolah tinggi pariwisata untuk meningkatkan kompetensi sivitas akademikanya, khususnya dalam menguasai bahasa Mandarin, mengingat kunjungan wisatawan China ke Bali sangat tinggi.

Pasca-Covid-19, pada kuartal I tahun 2024, wisatawan asal China tercatat menduduki posisi kedua setelah Australia. Sendra berpendapat, hal ini membuktikan recovery wisatawan China sudah pulih setelah pandemi.

Meski demikian, ia mengingatkan, hubungan pariwisata Bali dengan China sempat ‘terganggu’ oleh beberapa persoalan di tahun 2019, meski sudah diatensi oleh pemerintah dengan menandatangani MoU.

Sendra menegaskan, pariwisata China berbasis teknologi, sehingga Indonesia wajib mengimbanginya agar tidak dijadikan ‘bulan-bulanan’ seperti peristiwa tahun 2019 lalu.

Sehingga pihaknya terus berupaya meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) baik di tataran lembaga pendidikan dan non formal, contohnya dengan memberikan pelatihan bahasa Mandarin kepada 85 orang pramuwisata/guide.

“Kami pilih guide-guide asli Bali (untuk diberikan pelatihan bahasa Mandarin-red) yang paham adat budaya Bali. Kami yakin kalau guide Bali tidak mungkin tega menodai kebudayaannya sendiri. Sehingga saat meng-handle tamu, mereka bisa memberi penjelasan dengan benar,” kata Sendra, didampingi Direktur China TCI Prof. Tao Xian Guang.

Pada kesempatan yang sama Wakil Direktur I Poltekpar Bali Dr. I Gusti Agung Gede Witarsana, S.ST.Par., MM., CHE., menyebut, institusinya mengusung visi misi berstandar internasional, sehingga kolaborasi dengan TCI F. Par Unud merupakan langkah pengembangan kapabilitas Sivitas Poltekpar Bali.

Peningkatan kemampuan berbahasa Mandarin, kata Agung Witarsana, merupakan sebuah keniscayaan bagi mahasiswa dan dosen, sebab Bali adalah destinasi pariwisata dunia. Jutaan wisatawan asing datang, termasuk yang mendominasi berasal dari China.

“Kerja sama kami dengan TCI sudah dilakukan berupa program beasiswa, fasilitasi dosen bahasa Mandarin. Dan mulai smester ini, kami buka pilihan bahasa Mandarin bagi mahasiswa, melengkapi pilihan bahasa Jepang, Jerman dan Perancis sebelumnya,” kata Agung Witarsana.

Peluang mempelajari bahasa Mandarin juga terbuka untuk dosen-dosen Poltekpar yang ingin mendalaminya. Pengajar sendiri disediakan oleh TCI F.Par Unud. Ia menyebut, mahasiswa sudah menunjukkan ketertarikannya. Salah satu indikatornya melihat antusiasme mahasiswa menyaksikan lantern festival.

“Kami mengelola jurusan usaha perjalanan pariwisata. Sangat erat kaitannya dengan tour operator dan guiding yang membutuhkan bahasa Mandarin. Selain itu, kemahiran berbahasa Mandarin jelas melebarkan peluang kerja bagi mahasiswa kami,” kata Agung Witarsana, memungkasi. (gde)

 

 Save as PDF

Next Post

Varuna Theatrical Underwater Berhasil Sedot Ribuan Pengunjung

Jum Feb 23 , 2024
Dibaca: 621 (Last Updated On: 23/02/2024) Pertunjukan teatrikal bawah air di Varuna, Jumat (23/2/2024)  GIANYAR-Fajar Bali | Pertunjukan teatrikal bawah air pertama di Indonesia, Varuna, sukses menyedot ribuan pengunjung sejak soft opening pada Desember 2023 lalu dengan tingkat kepuasan di luar dugaan. Varuna yang berlokasi di Taman Safari Bali, akan […]
1000093926

Berita Lainnya