Gerakan Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah: Menguatkan Peran Ayah dalam Pendidikan Anak dari Perspektif Adat Bali dan Ajaran Hindu

IMG-20250719-WA0008
ilustrasi-(ayah siap mengantarkan anaknya ke sekolah).

Di tengah absennya sosok ayah, ibu dituntut untuk hadir sepenuhnya—memberikan pendampingan, menjelaskan situasi keluarga dengan jujur namun tetap penuh kasih, serta membangun pemahaman yang sesuai dengan usia anak. 

Kalimat sederhana seperti, “Kita tetap lengkap, karena kita saling sayang, nanti Ibu yang antar sekolah yaa…” bisa menjadi kekuatan luar biasa bagi anak yang mungkin bertanya-tanya tentang ketidakhadiran ayah.

Ibu juga menjadi penopang utama dalam menumbuhkan rasa percaya diri anak. Bahwa kehadiran orangtua di hari pertama sekolah bukan sekadar tentang siapa yang datang, tetapi tentang siapa yang benar-benar hadir dan mendampingi dengan cinta. 

Sikap positif ibu, keteguhan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak, dan kemampuan menyalurkan makna kehangatan keluarga dalam bentuk yang berbeda menjadi kunci penting agar anak tidak merasa “kurang” dibanding teman-temannya.

Yang dibutuhkan adalah pengakuan bahwa cinta keluarga hadir dalam berbagai bentuk. Karena sejatinya, cinta dan dukungan tidak harus selalu datang dari dua orang tua dalam satu waktu.

Dalam pelukan hangat ibu, dalam tatapan yang meyakinkan, dalam kata-kata sederhana yang menenangkan, seorang anak tetap bisa merasa utuh, berharga, dan dicintai tanpa syarat.

Bali Siap Gelorakan Semangat Gerakan Sekolah Bersama Ayah

Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2025/2026 di Provinsi Bali jatuh pada Senin, 21 Juli 2025. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali dan menghimbau para ayah untuk terlibat langsung dalam momen awal anak menempuh pendidikan. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top