Gerakan Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah: Menguatkan Peran Ayah dalam Pendidikan Anak dari Perspektif Adat Bali dan Ajaran Hindu

IMG-20250719-WA0008
ilustrasi-(ayah siap mengantarkan anaknya ke sekolah).

Kini, semakin banyak ayah muda di Bali yang berani mendobrak sekat-sekat budaya tradisional, terlibat aktif dalam kegiatan rumah tangga dan pengasuhan anak, sekaligus tetap menjalankan perannya dalam konteks adat. Namun tentu saja, transisi ini tidak berjalan tanpa hambatan. 

Banyak ayah menghadapi tekanan sosial dari lingkungan sekitar, bahkan dari keluarga besar, yang masih berpegang pada pembagian peran konvensional. Tantangan terbesar bukan hanya mengubah perilaku, tetapi juga menggeser cara pandang kolektif masyarakat terhadap peran ayah dalam keluarga.

Oleh karena itu, dukungan kebijakan, edukasi, dan kampanye publik yang mendorong peran ayah dalam pengasuhan menjadi sangat penting. Menguatkan peran ayah tidak berarti mengurangi peran ibu, melainkan menciptakan keseimbangan baru yang lebih sehat dan adil dalam struktur keluarga Bali masa kini—sebuah sinergi antara nilai adat dan modernitas yang saling memperkuat.

Hari pertama sekolah semestinya menjadi momen penuh sukacita. Namun di balik semaraknya tagar dan unggahan media sosial bertema “sekolah bersama ayah”, terselip cerita sunyi dari para ibu tunggal.

Di Bali, kehadiran ayah dalam keluarga memiliki dimensi yang jauh lebih dalam. Dalam adat dan ajaran Hindu Bali, sosok ayah bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga sebagai penjaga warisan spiritual, pelaksana upacara adat, hingga penuntun nilai-nilai kehidupan. 

Dalam sistem patrilineal yang kuat, keberadaan ayah kerap menjadi simbol identitas dan kesinambungan keluarga.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top