Sehingga bagi anak-anak yang tumbuh tanpa ayah, bukan hanya aspek emosional yang terasa timpang, tetapi juga perasaan keterpisahan dari struktur adat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.
Karena itu, banyak ibu tunggal di Bali berharap ada ruang empati dalam narasi publik dan kebijakan. Bahwa tidak semua keluarga memiliki formasi yang sama, dan tidak semua anak bisa memanggil “ayah” di pagi pertama mereka—dan itu bukan kesalahan siapa pun.
Di tengah adat yang memuliakan peran ayah, perlu juga ruang penghormatan bagi ibu yang berjuang sendiri menjaga keseimbangan keluarga—agar anak-anak tetap bisa tumbuh dalam cinta, adat, dan rasa hormat, meski dalam formasi keluarga yang berbeda.
Kekhawatiran muncul dari seorang Single Mom melalui pesan di media Sosial Kemendukbangga_BKKBNBali.
“Apakah himbauan ini sudah mempertimbangkan keadaan anak yang tidak punya ayah lagi nggih ? Anak saya trauma berat selama 1 bulan tidak mau berangkat sekolah karena menyaksikan temannya yg beberapa diantar oleh ayah mereka. Bagaimana jika trauma anak saya terulang kembali nggih?” Begitu ungkapan hati ibu ini.
Menurut Hari Imam Wahyudi, S.Psi, seorang Psikolog Klinis dari Lembaga Psikologi & Hipnoterapi Dian Selaras, dalam situasi seperti ini, para ibu diingatkan untuk tidak terjebak dalam denial terhadap kondisi keluarga yang dijalani maupun realitas sosial yang berkembang.
Sebagai orangtua yang masih aktif mendampingi anak, peran ibu sangatlah penting. Ibu tidak hanya berperan secara fisik dalam mengantar anak ke sekolah, tetapi juga secara emosional dalam membentuk ketahanan psikologis anak.










