Tradisi dan Budaya Lokal: Ayah Sebagai Role Model
Dalam tatanan adat Bali yang bersifat patrilineal, peran ayah sangat dominan dalam pewarisan nilai, identitas, dan tradisi. Ayah bertugas menjaga kesinambungan spiritual keluarga melalui pelaksanaan upacara, pemeliharaan tempat suci keluarga (sanggah atau merajan), dan mendidik anak dalam nilai-nilai tatwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual). Oleh karena itu, ayah bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga penjaga warisan budaya.
Di lain pihak, pengaruh budaya patriarki dalam masyarakat mempengaruhi Pembagian Peran Tradisional. Budaya patriarki di Bali, seperti di banyak tempat lain, cenderung menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan rumah tangga dan pengasuhan anak, sementara laki-laki (ayah) fokus pada mencari nafkah dan kegiatan publik.
Bahkan, di dalam kelompok masyarakat tertentu, budaya patriarkhi membentuk persepsi dan ekspektasi masyarakat bahwa ayah tidak perlu terlalu terlibat dalam kegiatan pengasuhan, bahkan dianggap kurang maskulin jika terlalu terlibat dalam urusan domestik.
Akibatnya, ayah seringkali merasa canggung atau bahkan ragu untuk terlibat dalam pengasuhan, khawatir akan pandangan negatif dari masyarakat.
Meski demikian, angin perubahan mulai bertiup. Seiring dengan perubahan jaman dan disrupsi teknologi, Bali mulai mengalami pergeseran nilai dan kesadaran kolektif. Munculnya wacana kesetaraan gender, kampanye parenting modern, dan peran media sosial telah membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.










