"Namun, bukti ini tidak diimbangi dengan investasi dalam dukungan yang sangat dibutuhkan para ayah untuk meningkatkan diri dan menjadi yang terbaik," ungkap Britto.
Kemajuan di bidang ilmu saraf telah menunjukkan bahwa tahun-tahun awal kehidupan, terutama selama 1.000 hari pertama, sangat krusial bagi perkembangan otak anak.
Ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang aman, penuh dukungan, dan kaya rangsangan, otaknya akan berkembang secara optimal.
Koneksi antar sel saraf yang terbentuk selama periode ini memengaruhi kemampuan berpikir, kesehatan, kebahagiaan, cara belajar, respons terhadap stres, serta keterampilan sosial mereka.
Faktor-faktor seperti asupan gizi yang tepat, rasa aman, aktivitas bermain, dan kasih sayang yang konsisten memainkan peran penting dalam memicu terbentuknya koneksi saraf ini.
Hasil survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2015 menunjukkan hanya sekitar 27,9% ayah dan 36,9% ibu mencari informasi tentang cara merawat anak sebelum menikah (KPAI, 2017).
Setelah menikah, angka ini meningkat menjadi 38,9% untuk ayah dan 56,2% untuk ibu (KPAI, 2017). Selain itu, adanya keterbatasan waktu yang dialami oleh ayah, dengan rata-rata hanya 1 jam per hari (KPAI, 2017.
Makna Ayah dalam Konteks Adat Bali dan Hindu
Dikutip dari Website Hindujogja.Com, Made Worda Negara menyatakan, dalam ajaran Hindu, peran seorang ayah dipandang sangat penting dan penuh tanggung jawab.
Seorang ayah memikul tugas yang tidak ringan namun sangat mulia, yaitu membesarkan, merawat, mendidik, dan membimbing anak-anaknya.










