FBS UPMI Lepas 67 Sarjana dan Magister Dekan Sujaya: Jangan Jadi Sarjana Kertas

IMG-20260805-WA0012
Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Dr. I Made Sujaya, SS., M.Hum., melepas sebanyak 67 calon sarjana dan magister, bertempat di Auditorium Redha Gunawan, UPMI, Rabu (5/8/2026). [foto: IGA Adnyana]

DENPASAR-fajarbali.com | Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, melepas sebanyak 67 calon sarjana dan magister, bertempat di Auditorium Redha Gunawan, UPMI, Rabu (5/8/2026).

Ketua panitia kegiatan Dr. Pande Putu Yogi Arista Pratama, S.Sn., M.Pd., melaporkan, para lulusan terdiri dari: 6 orang dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister, 15 orang dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah.

37 orang dari Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, 9 orang dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa. "Semua calon wisudawan/wisudawati ini akan diwisuda rencananya 18 Agustus mendatang," kata Pande.

Pande merinci, Data Lulusan Fakultas Bahasa Dan Seni Program Magister: rata-rata masa studi 2 Tahun, Studi Tercepat 2 Tahun, Studi Terlama 4 Tahun, Rata-rata IPK 3.88, IPK Tertinggi 3.96.

Sementara dari Program Sarjana: Rata-rata masa studi 2 Tahun, Studi Tercepat 2 Tahun, Studi Terlama 4 Tahun, Rata-rata IPK 3.88, IPK Tertinggi 3.96.

Adapun lulusan terbaik Terbaik Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister diraih oleh I Ketut Budiarta, S.Pd., M.Pd. Ni Luh Widya Antari, S.Pd., berhasil menyabet lulusan terbaik dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah. Sedangkan lulusan terbaik Program Studi Pendidikan Seni Rupa, diraih I Komang Yogi Swidarta, S.Pd.

Dekan FBS UPMI Dr. I Made Sujaya, SS., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan pesan menohok. Terinspirasi dari novel "Kami Bukan Sarjana Kertas" karya J.S. Khairen, Sujaya mengingatkan bahwa kampus bukan tempat mencetak manusia sempurna. Tetapi tempat menempa diri lewat perjuangan.

Sujaya melanjutkan, kisah tujuh mahasiswa itu, sama seperti kebanyakan mahasiswa. Ada yang merasa salah jurusan, dipaksa orang tua, tidak percaya diri, merasa hampir gagal. "Bahkan ada yang bertanya dalam dirinya sendiri, mampukah saya menyelesaikan kuliah ini?," kata Sujaya.

BACA JUGA:  Pahami Hindu, Antisipasi Konversi Agama

"Sekarang adalah jawabannya. Saudara-saudara berhasil menyelesaikan studi sarjana dan magister. Jadi momentum pelepasan atau yudisium kali ini menyatukan keberhasilan dari proses yang berbeda-beda. Ijazah hanya selembar kertas tapi kapasitas berpikir harus terus anda kembangkan," imbuhnya.

Dekan sangat yakin, perjalanan lulusannya mirip dengan cerita novel, yang mana tujuh tokoh mahasiswa itu berhasil membangun karir masing-masing. Apalagi di FBS memiliki karakteristik kritis, kreatif dan humanis. Tiga karakteristik tersebut menurutnya, sangat relevan dijadikan prinsip apalagi lulusannya ini lahir di era artificial intellegence (AI) atau kecerdasan buatan.

Daya kritis sangat diperlukan agar tidak termakan hoak. AI menuntut manusia lebih kreatif dalam berkarya. Jangan hanya menjadi pemakai teknologi, namun jadilah solusi. Kemudian, ketika teknologi makin canggih, humanisme justru makin diperkuat. Prinsip tersebut telah diimplementasikan melalui gagasan baru, yakni program lulus jalur non skripsi/tesis.

Tahun ini, jumlah calon sarjana dan magister dari jalur proyek inovasi non skripsi/tesis meningkat 100 persen dari tahun lalu dengan 10 orang. Ia bangga bahwa FBS mampu menginspirasi fakultas lain di lingkungan UPMI.

Jalur karya proyek inovatif, menurut Sujaya, bukan berarti lebih mudah daripada menyusun srikpsi atau tesis. Justru jalur inovasi ini lebih menantang mahasiswa memaksimalkan segala potensi dirinya. 

"Kami di FBS memang ambisius. Selalu ingin di depan. Tapi bisa juga mengambil posisi di tengah bahkan belakang sesuai konsep Ing Ngarsa Sung Tulodha, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani," kata Sujaya.

Lebih lanjut, ia berharap lulusannya memanfaatkan peluang pembukaan formasi guru oleh Pemerintah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung tahun 2027. Jika digabung, jumlah formasinya lebih dari 400. Hal ini menjadi kesempatan emas anak-anak asuhnya mengabdi sebagai guru profesional. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top