Lomba Debat Semarakkan Peringatan Hari Kesehatan Lingkungan 2026

IMG-20260919-WA0008
Pembukaan Lomba Debat bertema "Sains, Inovasi, Aksi kesehatan Lingkungan untuk Pariwisata Sehat dan Masyarakat Sehat", bertempat di Auditorium Direktorat Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jumat (18/9/2026). foto: fb/gde

*Lomba debat mengusung "Sains, Inovasi, Aksi kesehatan Lingkungan untuk Pariwisata Sehat dan Masyarakat Sehat", dinilai relevan dengan situasi di Bali yang notabene destinasi pariwisata dunia. 

DENPASAR-fajarbali.com | Serangkaian peringatan Hari Kesehatan Lingkungan/World Environmental Health Day 2026, Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Denpasar, menggelar Lomba Debat bertema "Sains, Inovasi, Aksi kesehatan Lingkungan untuk Pariwisata Sehat dan Masyarakat Sehat", bertempat di Auditorium Direktorat Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jumat (18/9/2026).

Lomba tersebut diikuti 8 tim dari SMA sederajat se-Bali. Selain debat, panitia juga menggelar lomba esai, infografis, video edukasi tingkat SMA dan mahasiswa. Demikian dikatakan Ketua Panitia Kegiatan I Nyoman Jirna, SKM., M.Si.

Hari kesehatan lingkungan, kata Jirna, tidak hanya dimaknai dengan seremonial, melainkan aksi nyata. Karena itu, seluruh Sivitas Akademik Jurusan Kesehatan Lingkungan juga akan menggelar aksi membersihkan pantai Sidakarya dari sampah plastik berkolaborasi dengan Komunitas Malu Dong dan mitra lainnya, pada Jumat 25 September mendatang. 

Tak kalah menarik, pihaknya juga menggelar Simposium nasional yang menghadirkan Wakil Menteri Pariwisata RI, pakar lingkungan/akademisi Universitas Udayana, serta Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia. 

"Tujuan rangkaian kegiatan ini untuk meningkatkan literasi, inovasi serta kolaborasi aksi kesehatan untuk pariwisata dan masyarakat sehat," ujar Jirna. Terkait lomba debat, pihaknya berharap lahir gagasan-gagasan baru dari pelajar terkait inovasi di bidang kesehatan lingkungan. 

Direktur Poltekkes Kemenkes Denpasar Dr. Erika Yulita Ichwan, SST., M.Keb, saat membuka kegiatan mengatakan, tema yang diangkat dalam rangkaian kegiatan ini sangat relevan dengan tantangan kesehatan saat ini. 

"Kita menghadapi persoalan perubahan iklim, pencemaran lingkungan, kualitas air dan udara, pengelolaan sampah dan limbah, sanitasi, hingga berbagai paparan lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat," ungkap Erika Ichwan.

BACA JUGA:  Melalui Customer Gathering, RSUP Prof Ngoerah Kenalkan Layanan Medical Tourism di Bali

Sehingga, tantangan tersebut tidak cukup dijawab hanya melalui wacana, tetapi membutuhkan ilmu pengetahuan, inovasi, kolaborasi, dan tindakan nyata. 

Bagi Bali, menurut Erika Ichwan, isu kesehatan lingkungan memiliki dimensi yang semakin strategis. Sebagai daerah dengan aktivitas pariwisata yang tinggi, kesehatan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan masyarakat maupun keberlanjutan pariwisata. Karena itu, gagasan lingkungan sehat, pariwisata sehat, dan masyarakat sehat menjadi sebuah kesatuan yang harus kita bangun bersama. 

"Saya sangat mengapresiasi bahwa kegiatan ini tidak hanya diselenggarakan dalam satu bentuk aktivitas. Rangkaian World Environmental Health Day 2026 memberi ruang bagi berbagai kemampuan generasi muda: kemampuan melakukan penelitian, menyampaikan gagasan, membaca dan mengomunikasikan data, menciptakan media edukasi, hingga membangun argumentasi berbasis bukti," jelasnya.

Ia melanjutkan, melalui The 1st National Environmental Health Symposium 2026, mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi, serta pemangku kepentingan dipertemukan dalam sebuah forum ilmiah untuk berbagi hasil penelitian, inovasi, gagasan, dan praktik baik di bidang kesehatan lingkungan.  

Melalui Young Environmental Health Thinker, Poltekkes Kemenkes Denpasar mendorong generasi muda untuk melahirkan gagasan yang kreatif, aplikatif, dan berkelanjutan. Melalui Environmental Health Data Story, data tidak berhenti sebagai angka, tetapi diterjemahkan menjadi informasi yang mampu mengedukasi masyarakat. 

Melalui Environmental Health Creator, ilmu kesehatan lingkungan dikomunikasikan melalui media yang lebih dekat dengan generasi muda. Dan melalui Environmental Health Debate Competition, peserta didorong untuk berani berbicara dengan evidence, berpikir kritis, serta membangun argumentasi yang logis dan bertanggung jawab. 

Erika ichwan menilai, hal ini sejalan dengan semangat yang diangkat dalam kompetisi debat tahun ini: “Evidence to Action: Shaping a Resilient and Sustainable Future for Environmental Health” dengan tagline “Speak with Evidence. Debate for Health.” Artinya, bukti ilmiah harus mampu bergerak dari ruang akademik menuju keputusan dan tindakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. 

BACA JUGA:  Rabun Jauh pada Anak: Benarkah Gadget Penyebab Utama?

Sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan, Poltekkes Kemenkes Denpasar memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan. Kita harus menjadi tempat tumbuhnya pemikir, inovator, praktisi, dan calon pemimpin kesehatan yang mampu memahami masalah secara ilmiah serta menghadirkan solusi yang relevan bagi masyarakat. 

Karena itu, kepada seluruh peserta, direktur berpesan agar jangan hanya mengejar kemenangan dalam kompetisi. Gunakan forum ini untuk belajar. "Belajarlah menyampaikan gagasan secara ilmiah, menghargai pendapat yang berbeda, menerima kritik, membangun jejaring, dan yang paling penting—membiasakan diri mengambil keputusan berdasarkan bukti," tegasnya.

Kepada mahasiswa dan generasi muda, ia menegaskan bahwa persoalan kesehatan lingkungan adalah persoalan masa depan kalian. Perubahan iklim, sanitasi, sampah, pencemaran, keamanan air, teknologi, dan kecerdasan buatan dalam kesehatan lingkungan akan semakin menentukan kualitas kesehatan masyarakat. Maka generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengamat perubahan, tetapi harus menjadi pencipta perubahan. 

Dan kepada para dosen, peneliti, praktisi, serta seluruh mitra, ia berharap kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi. Karena berbagai persoalan kesehatan lingkungan tidak mungkin diselesaikan oleh satu profesi, satu institusi, atau satu disiplin ilmu saja. 

"Saya berharap, World Environmental Health Day 2026 tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial ataupun kompetisi tahunan. Saya ingin gagasan-gagasan terbaik yang lahir dari kegiatan ini dapat dikembangkan menjadi penelitian, inovasi, edukasi masyarakat, maupun aksi nyata yang memberikan dampak bagi Bali dan Indonesia," tambah dia. 

"Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguatan komitmen bahwa science must lead to action, dan bahwa ilmu pengetahuan yang baik adalah ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat bagi kehidupan," kata Erika Ichwan, memungkasi. [gde]

BACA JUGA:  Program Kader Duta Stunting, Upaya Cegah Stunting di Desa Bayung Gede, Kintamani, Bangli 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top