GIANYAR-fajarbali.com | Kesehatan ibu sampai saat ini masih menjadi masalah serius yang harus ditangani. Hal ini disebabkan karena masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yang terjadi akibat komplikasi kehamilan, persalinan maupun pasca persalinan.
Umumnya 80-90% kehamilan akan berlangsung normal dan hanya 10-12% kehamilan disertai dengan penyulit atau berkembang menjadi kehamilan komplikasi.
Kehamilan komplikasi sendiri tidak terjadi secara mendadak karena kehamilan mengingat efeknya terhadap organ tubuh berlangsung secara bertahap.
Ibu yang mengalami komplikasi kehamilan memiliki risiko mengalami kematian ibu lebih besar bila dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami komplikasi kehamilan.
Pada dasarnya komplikasi tersebut dapat dicegah atau diobati, komplikasi ini dapat terjadi sebelum kehamilan dan memburuk dalam proses kehamilan terutama jika tidak tertangani dengan baik.
Komplikasi kehamilan, seperti perdarahan hebat, preeklamsia, dan infeksi, sering kali akibat efek domino dari fenomena 3 Terlambat (3T). Ketika tanda bahaya muncul, ketidaktahuan atau keraguan keluarga dalam mengambil keputusan menjadi hambatan pertama (terlambat mengenali bahaya).
Hal ini diperparah oleh kendala geografis, transportasi, maupun biaya saat mencoba menjangkau fasilitas kesehatan (terlambat sampai di tempat rujukan). Puncaknya, nyawa ibu semakin terancam apabila sesampainya di rumah sakit, penanganan medis darurat tertunda akibat keterbatasan alat, obat, atau tenaga ahli (terlambat mendapat penanganan).
Oleh karena itu, komplikasi kehamilan yang sebenarnya bisa diatasi secara medis sering kali fatal bukan karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan, melainkan karena kegagalan sistem penanganan yang terhambat oleh mata rantai 3T tersebut.
Dalam upaya memutus rantai tersebut, ibu hamil dan keluarganya harus memiliki pengetahuan dalam pencegahan komplikasi yang cukup sehingga mampu mengenali adanya tanda bahaya, siap dan mampu mengambil keputusan saat terjadi komplikasi menuju persalinan yang aman.
Dalam menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian Jurusan Kebidanan Poltekkes Denpasar yang terdiri atas Made Widhi Gunapria Darmapatni, I Nyoman Wirata dan Desak Ketut Ayu Ardani melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi berupa Pengabdian masyarakat dengan skema PKM bertema “Edukasi Persiapan Persalinan Dan Penanganan Komplikasi pada Ibu Hamil Menuju Persalinan yang Aman dan Terencana Di Desa Medahan Blahbatuh Gianyar”.
Widhi Gunapria menjelaskan, pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu hamil menyusun perencanaan persalinan terkait penolong, tempat, pendamping, persiapan transportasi, calon donor darah, dana persalinan, dan kontrasepsi pasca salin.
Widhi Gunapria menambahkan, ibu hamil juga diberikan pengenalan tanda bahaya kehamilan dan Inisiasi Menyusui dini (IMD). Informasi yang telah dimiliki ibu hamil sebelumnya diperkuat dan dilengkapi dalam pengabdian ini.
"Perencanaan persiapan persalinan lebih jelas, kedaruratan dapat disiapkan melalui deteksi tanda bahaya secara dini serta meningkatkan pemberdayaan keluarga dengan mengajak ikut aktif memantau kehamilan," ujarnya.
Ia menjelaskan, pengabdian berlangsung dari April hingga Oktober 2026, dimulai dari tahap perizinan, persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, hingga penyusunan laporan akhir. Kegiatan pengabdian di implementasikan dalam kegiatan kelas antenatal dihadiri pihak Desa dan Puskesmas Pembantu Desa Medahan.
"Selama kegiatan edukasi berlangsung, peserta mengikuti sesi penyampaian materi, diskusi interaktif, dan demonstrasi dengan sangat antusias," kata dia.
Para peserta menunjukkan respon yang sangat positif, ibu hamil merasa lebih tenang karena lebih mampu mengenali gejala kritis seperti perdarahan atau bengkak secara dini, serta menyatakan kesiapan yang lebih tinggi bersama suami untuk segera mencari pertolongan medis ke fasilitas kesehatan tanpa menunda-nunda demi keselamatan janin.
Tim pengabdi melakukan pendampingan secara langsung untuk memastikan setiap ibu hamil mampu melengkapi komponen persiapan persalinan dengan yakin setelah mendapatkan informasi lengkap.
Pada akhir pengabdian akan dilaksanakan monitoring evaluasi untuk menilai dampak dan mengidentifikasi hambatan yang dihadapi ibu hamil dalam persiapan dan pencegahan komplikasi serta umpan balik guna penyelesaian masalah atau hambatan yang ditemukan.
Pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri ibu dan keluarga dalam merawat kehamilannya, mendeteksi adanya bahaya yang mengancam kehamilannya, tentunya hal ini harus didukung Persiapan Persalinan dan Penanganan Komplikasi yang memadai dan lengkap. [gde/rel]









