DENPASAR-fajarbali.com | Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan.
Bagi ibu hamil, media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, dan WhatsApp kini menjadi salah satu sumber utama untuk mencari informasi mengenai perkembangan janin, pola makan, aktivitas fisik, persiapan persalinan, hingga perawatan bayi.
Kemudahan akses tersebut memberikan peluang besar untuk meningkatkan literasi kesehatan, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa maraknya informasi yang tidak selalu akurat.
Literasi kesehatan adalah kemampuan seseorang untuk memperoleh, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan dalam mengambil keputusan yang tepat.
Pada masa kehamilan, literasi kesehatan menjadi sangat penting karena berhubungan dengan perilaku ibu, seperti kepatuhan melakukan pemeriksaan antenatal, konsumsi suplemen zat besi dan asam folat, pemenuhan gizi, mengenali tanda bahaya kehamilan, serta kesiapan menghadapi persalinan.
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang semakin besar dalam membentuk perilaku kesehatan ibu hamil.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2025 melaporkan bahwa sebagian besar ibu hamil di Amerika Serikat, Inggris, Eropa, dan Asia memanfaatkan media sosial untuk memperoleh informasi kesehatan dan dukungan emosional.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa media sosial mampu meningkatkan akses terhadap edukasi kesehatan dan memperkuat dukungan sosial, tetapi kualitas informasi yang beredar sangat bervariasi sehingga diperlukan kemampuan untuk memilah informasi yang berbasis bukti ilmiah.










