Selain itu, sebuah systematic review yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menemukan bahwa tingkat literasi kesehatan ibu hamil masih beragam di berbagai negara.
Penelitian yang menganalisis 14 studi tersebut menunjukkan bahwa ibu hamil dengan literasi kesehatan yang rendah cenderung memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik, seperti pola makan yang tidak sehat, kepatuhan yang rendah terhadap anjuran tenaga kesehatan, serta kurang memahami risiko selama kehamilan.
Kajian tersebut juga menegaskan bahwa tenaga kesehatan tetap menjadi sumber informasi paling tepercaya bagi ibu hamil.
Media sosial juga memberikan manfaat psikologis.
Banyak ibu hamil merasa lebih percaya diri setelah bergabung dalam komunitas daring yang memungkinkan mereka berbagi pengalaman dengan ibu hamil lainnya.
Dukungan sosial ini dapat mengurangi rasa cemas, meningkatkan motivasi menjalani kehamilan sehat, dan memberikan rasa tidak sendirian ketika menghadapi perubahan fisik maupun emosional selama kehamilan.
Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal apabila informasi yang diterima berasal dari sumber yang kredibel.
Di sisi lain, media sosial memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan. Informasi yang tidak didukung bukti ilmiah dapat menyebarkan mitos mengenai kehamilan, penggunaan obat-obatan, suplemen, maupun pola makan yang tidak sesuai dengan rekomendasi medis.
Selain itu, paparan konten yang menampilkan gambaran kehamilan yang "sempurna" dapat memicu kecemasan, perbandingan sosial, bahkan ketidakpuasan terhadap kondisi diri sendiri.










