DENPASAR-fajarbali.com | Rangkaian Festival Legong Keraton Lasem XI Se-Bali Tahun 2026 resmi ditutup di pelataran Pura Jagatnatha, Denpasar, Minggu (20/9) sore. Ajang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar kolaborasi dengan Puri Agung Denpasar ini sukses menjadi wadah pembinaan sekaligus panggung pelestarian seni tari tradisional Bali bagi generasi muda.
Selama dua hari penyelenggaraan pada 19–20 September 2026, sebanyak 37 penari cilik tingkat sekolah dasar (SD) dari berbagai wilayah tampil menunjukkan kepiawaiannya. Sebanyak 20 peserta membuka kompetisi di hari pertama, disusul 17 peserta pada hari kedua. Tanpa dipungut biaya pendaftaran, para peserta memperebutkan penghargaan kategori Tari Legong Prabu Lasem, Legong Langke Sari, Legong Condong, Beregu, hingga Piala Tetap Wali Kota Denpasar.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan piala bergilir oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, kepada Sanggar Lokananta yang keluar sebagai Juara Umum. Momen krusial ini turut disaksikan oleh Penglingsir Puri Agung Denpasar A.A. Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, Ketua PHDI Denpasar, serta Bendesa Adat Denpasar.
Tari Legong Keraton Lasem dikenal sebagai tarian klasik berdurasi panjang dengan struktur gerak yang amat rumit. Keberanian para penari cilik membawakan tarian ini mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri dan penonton. Penampilan mereka memperlihatkan buah dari latihan tekun dan dedikasi panjang dalam menguasai teknik dasar kesenian daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, menegaskan bahwa nilai utama kegiatan ini terletak pada proses pembentukan karakter anak. "Festival ini bukan sekadar kompetisi meraih piala, melainkan sarana pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal keluhuran seni tradisi. Melalui Legong Keraton Lasem, mereka belajar kedisiplinan dan ketekunan sejak usia dini," ujarnya.
Sementara itu, Penglingsir Puri Agung Denpasar, A.A. Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Puri dalam menjaga warisan leluhur. "Keterlibatan generasi muda dalam seni tari klasik adalah benteng utama kebudayaan Bali. Kita ingin melahirkan generasi yang mahir secara teknis sekaligus bangga akan identitas budayanya di tengah arus modernisasi," tegasnya.
Melalui keberhasilan penyelenggaraan tahun ini, Pemkot Denpasar berkomitmen menjaga keberlanjutan regenerasi seniman cilik. Festival Legong Keraton Lasem terbukti tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan, tetapi juga sarana edukasi kultural yang memupuk kesadaran kolektif untuk merawat kebudayaan Bali secara berkelanjutan. (M-001)









