Menjemput Upeksa

IMG-20260106-WA0008
Dr.A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda.

Pemerkosaan alam ini bukan hanya merusak ekosistem, tapi juga menghancurkan masa depan kemanusiaan itu sendiri. Kita sedang meminjam oksigen dan air dari anak cucu kita, namun kita mengembalikannya dalam bentuk polusi dan bencana.

Upeksa: Menjemput Keseimbangan yang Hilang

Untuk mengatasi krisis ini, kita harus kembali pada prinsip Upeksa. Dalam ajaran kebijaksanaan, Upeksa adalah puncak dari Catur Paramita, sebuah sikap keseimbangan batin yang tidak tergoyahkan oleh dualitas dunia (suka-duka, untung-rugi).

Upeksa bukan berarti apatis atau tidak peduli. Sebaliknya, ia adalah kesadaran tinggi untuk bertindak secara seimbang. Dalam konteks kebangsaan 2026: Keseimbangan Spiritual: Menyeimbangkan antara ritual eksternal dengan transformasi internal.

Keseimbangan Sosial: Menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kesejahteraan bersama.

Keseimbangan Ekologis: Menyeimbangkan pemanfaatan alam dengan upaya konservasi yang radikal. Tahun 2026 harus menjadi momentum "Audit Kesadaran". Sebagai praktisi yang mengelola manusia,
saya meyakini bahwa SDM unggul bukan hanya mereka yang mahir teknologi, melainkan mereka yang memiliki kesadaran utuh.

Bangsa yang hanya sibuk dengan urusan agama tanpa melibatkan Tuhan akan menjadi bangsa yang keras hati. Bangsa yang hanya mengejar kemajuan materi dengan memperkosa alam akan menjadi
bangsa yang kehilangan rumah.

Mari kita kembali pada esensi: mencintai Tuhan melalui cinta pada sesama dan penjagaan pada alam. Merawat kesadaran adalah satu-satunya jalan agar Indonesia tidak hanya sekadar nama dalam buku
sejarah, tetapi sebuah peradaban yang tetap hidup, bernapas, dan diberkati.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top