Menjemput Upeksa

IMG-20260106-WA0008
Dr.A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda.

Kita sedang mengalami fase di mana agama telah direduksi menjadi sekadar "prosedur operasional standar" (SOP) sosial. Banyak dari kita, termasuk umat
Hindu, terjebak dalam pemujaan simbol yang bersifat lahiriah.

Kita sangat mencintai agama sebagai
identitas politik, sebagai kebanggaan kelompok, dan sebagai warisan tradisi yang harus dipertahankan secara defensif. Namun, dalam keriuhan menjaga identitas itu, kita justru sering kehilangan Tuhan yang seharusnya menjadi pusat dari kesadaran tersebut.

Bayangkan megahnya upacara-upacara keagamaan yang kita gelar. Banten yang bertumpuk menjulang, barisan parade yang memukau mata dunia, hingga renovasi pura yang menghabiskan dana miliaran rupiah.

Semua itu adalah bentuk persembahan yang mulia jika didasari oleh ketulusan. Namun, audit kritis kita harus berani bertanya: di mana nilai-nilai Ketuhanan seperti kejujuran (Satya), kasih sayang (Ahimsa), dan keadilan (Dharma) diletakkan dalam keseharian? Seringkali, nilai-nilai substansial ini justru
terpinggirkan oleh ego sektarian.

Banyak catatan sosiologis menunjukkan bahwa kecintaan yang berlebihan pada agama sebagai "institusi" seringkali bermutasi menjadi fanatisme buta. Fanatisme inilah yang menciptakan sekat tebal antara "kita" dan "mereka".

Atas nama membela agama, manusia merasa berhak untuk merendahkan,
membenci, bahkan menghancurkan sesamanya. Ini adalah paradoks terbesar: bagaimana mungkin seseorang merasa sedang melayani Tuhan yang Maha Pengasih, namun di saat yang sama ia menebar kebencian di media sosial atau memutus tali silaturahmi hanya karena perbedaan pilihan?

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top