Dalam perspektif MSDM, ini adalah bentuk kegagalan "budaya organisasi" yang fatal. Ketika simbol lebih diutamakan daripada substansi, maka integritas akan runtuh. Ketuhanan sebenarnya bukan sekadar soal seberapa sering kita melangkah ke pura, masjid, gereja, atau wihara.
Ketuhanan bukan tentang berapa banyak atribut suci yang menempel di tubuh kita atau seberapa fasih kita merapalkan doa-doa panjang dalam bahasa kuno. Ketuhanan adalah tentang bagaimana kehadiran Sang Pencipta tercermin dalamperilaku nyata saat kita keluar dari tempat ibadah.
Jika kita mengaku beragama namun tangan kita masih lincah memanipulasi angka dalam anggaran kantor (korupsi), jika mulut kita masih gemar menyebarkan hoaks yang menghancurkan reputasi orang lain, atau jika kebijakan kita sebagai pemimpin justru menindas mereka yang lemah, maka kita sebenarnya sedang melakukan kebohongan publik yang kolosal. Kita hanya sedang mencintai "baju" agama kita.
Kita mencintai kenyamanan sosial yang diberikan oleh identitas agama, namun kita menolak tunduk pada otoritas moral Tuhan yang ada di dalamnya. Jika agama hanya digunakan sebagai alat untuk memuaskan narsisme kelompok, maka ia telah kehilangan fungsi utamanya sebagai pembebas jiwa.
Kita harus kembali pada kesadaran bahwa Tuhan tidak tinggal di dalam megahnya bangunan atau rumitnya upacara jika di sana tidak ada cinta kasih dan kejujuran.
Kesadaran bangsa ini hanya bisa dirawat jika kita berani melepaskan keterikatan pada ego agama dan mulai memeluk kembali hakikat Ketuhanan yang universal.










