Di bawah naungan beringin tua yang akarnya menghujam bumi sebuah pura, seorang pemuda tampak khusyuk menghaturkan canang sari. Asap dupa mengepul, membawa doa-doa ke angkasa di tengah riuhnya suara mesin ekskavator yang sedang mengeruk bukit di kejauhan untuk proyek resor mewah.
Di sana, persembahan dilakukan dengan rapi, namun di saat yang sama, hutan yang dianggap suci sedang meregang nyawa. Potret ini adalah cermin retak Indonesia di ambang 2026.
Kita melihat manusia-manusia yang rajin ber-Upakara, namun abai pada etika. Kita melihat kerumunan yang fasih merapalkan mantra, namun tangannya sibuk mengetik caci maki di layar ponsel.
Sebagai praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang bergelut dengan pengembangan karakter, saya melihat ada "salah urus" dalam jiwa bangsa kita. Kita sedang mengalami krisis kesadaran kolektif yang akut, di mana ritual hanya menjadi kosmetik, sementara ruhnya telah lama mati.
Mencintai Agama, Melupakan Tuhan:
Paradoks Kesalehan Visual Catatan pertama dan yang paling fundamental dalam refleksi 2026 ini adalah fenomena "mencintai agama namun melupakan Tuhan." Sebagai praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), saya melihat gejala ini sebagai sebuah patologi organisasi dalam skala kebangsaan.
Dalam dunia korporasi, kita sering menjumpai karyawan yang sangat patuh secara administratif—mereka datang tepat waktu, mengisi laporan kegiatan dengan rapi, dan mengejar Key Performance Indicator (KPI) dengan agresif.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, mereka kehilangan visi besar perusahaan. Mereka bekerja tanpa ruh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban prosedural.
Kondisi bangsa kita di tahun 2026 tidak jauh berbeda.










