Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bangsa yang saleh secara visual, namun keropos secara moral—sebuah organisasi besar yang tampak megah dari luar, namun sebenarnya sedang menuju kebangkrutan nurani.
Antarmanusia: Kejahatan di Balik Topeng Kebersamaan Poin kedua adalah degradasi hubungan antarmanusia. Di dunia organisasi, kunci keberhasilan adalah
kolaborasi dan empati. Namun, realita sosial kita menunjukkan sebaliknya.
Kejahatan kemanusiaan kini
tidak selalu berupa kekerasan fisik, melainkan "kanibalisme" karakter.
Kecemburuan sosial, kebencian berbasis SARA, dan hilangnya rasa hormat terhadap martabat manusia menjadi mata uang sehari-hari.
Kita menjadi bangsa yang mudah tersinggung namun sulit merasa
bersalah. Kejahatan antarmanusia terjadi saat kita berhenti melihat orang lain sebagai percikan cahaya Tuhan (Atman) yang sama dengan kita. Tanpa kesadaran ini, masyarakat hanya menjadi kumpulan
individu yang saling sikut demi kepentingan sesaat, menciptakan lingkungan yang beracun (toxic
environment) bagi pertumbuhan generasi mendatang.
Pemerkosaan Alam
Catatan ketiga yang paling krusial adalah hubungan kita dengan alam. Dalam konsep Tri Hita Karana, keseimbangan dengan alam (Palemahan) adalah harga mati. Namun, yang kita saksikan hingga 2026
adalah "pemerkosaan alam" secara sistematis atas nama pembangunan dan profit.
Hutan dibabat, pesisir direklamasi tanpa kajian mendalam, dan limbah dibuang seolah bumi memiliki daya serap tanpa batas. Kita sering melakukan upacara untuk memuja alam, namun tangan kita tetap merusaknya. Ini adalah kemunafikan ekologis. Alam tidak butuh sekadar sesaji; alam butuh perlindungan nyata.










