Pendamping tersebut membantunya memahami rangkaian acara serta situasi di sekitarnya, sehingga ia tetap dapat mengikuti seluruh kegiatan dengan baik meski memiliki keterbatasan penglihatan dan pendengaran.
Baginya, dukungan semacam ini krusial, sebab banyak teman disabilitas sesungguhnya ingin mengikuti kegiatan serupa namun ragu karena khawatir tidak dapat berpartisipasi secara optimal.
Dalam kesempatan itu, Wiguna juga berbagi wawasan mengenai pengalamannya menggunakan Google Maps sebagai pengguna tunanetra. Ia mengungkapkan Google Maps selama ini banyak membantunya, terutama saat merantau kuliah di Malang untuk mencari lokasi-lokasi terdekat dari tempat tinggalnya.
Namun ia mencatat satu keterbatasan yang masih dirasakan, yakni peta itu sendiri belum sepenuhnya dapat dibaca oleh pembaca layar atau screen reader seperti TalkBack yang ia gunakan. Sebagai solusi sementara, ia mengandalkan menu telusuri untuk mendapatkan informasi lokasi secara lebih rinci.
Poin utama yang disampaikan Wiguna dalam sesinya adalah ajakan kepada seluruh Local Guides di Indonesia untuk memperluas cakupan informasi aksesibilitas yang mereka tambahkan ke Google Maps.
Wiguna menyoroti bahwa fitur aksesibilitas yang tersedia saat ini cenderung masih berfokus pada disabilitas fisik, khususnya akses bagi pengguna kursi roda, sementara ragam disabilitas lain belum banyak tercakup.
Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menilai aksesibilitas suatu tempat, sebab penilaian yang keliru berisiko menyesatkan pengguna kursi roda yang mengandalkan informasi tersebut sebelum berkunjung, terutama bagi mereka yang bepergian sendiri tanpa pendamping.










