Program tersebut didukung dengan inventarisasi menyeluruh terhadap kesenian langka di seluruh Bali melalui basis data digital yang terbuka bagi publik.
PKB juga diharapkan tidak hanya menjadi panggung pertunjukan tahunan, tetapi berkembang menjadi laboratorium riset dan revitalisasi kesenian tradisi.
Pemerintah bersama desa adat diminta memastikan kesenian yang telah direkonstruksi tetap hidup melalui pementasan rutin dalam aktivitas adat dan keagamaan.
Aspek dokumentasi menjadi perhatian penting lainnya. KAWIYA dan PWI mengusulkan penyelamatan seluruh arsip sejarah PKB yang selama ini tersebar dan sebagian telah hilang, termasuk notasi gending, naskah pertunjukan, dokumentasi TVRI maupun RRI. Seluruh arsip tersebut diharapkan terintegrasi dalam pusat dokumentasi seni Bali yang dapat diakses masyarakat.
Menjelang usia emas PKB pada 2029, forum juga mendorong penerbitan buku resmi “50 Tahun Pesta Kesenian Bali” sebagai referensi sejarah sekaligus bentuk penghormatan kepada para tokoh perintis PKB, termasuk kemungkinan pembangunan monumen bagi para maestro.
Dalam penyelenggaraan festival, KAWIYA dan PWI menekankan perlunya penguatan sistem kuratorial dan penjurian yang profesional, objektif, serta bebas dari kepentingan primordialisme. Penilaian lomba diusulkan lebih menitikberatkan pada kualitas artistik dibanding kemewahan properti panggung.
Forum juga mendorong evaluasi berkelanjutan terhadap sistem kompetisi agar tidak menghilangkan keberagaman gaya kesenian masing-masing daerah akibat tekanan mengejar gelar juara.










