Di sisi lain, Dinkes Badung memperkuat pengendalian penyakit menular dan zoonosis. Cakupan vaksinasi rabies pada populasi anjing di Kabupaten Badung telah mencapai lebih dari 80 persen. Selain itu, rabies center telah berjalan di setiap puskesmas dan RS Daerah.
Untuk kawasan wisata dengan potensi interaksi satwa, seperti Sangeh dan Uluwatu, disiapkan prosedur penanganan kasus gigitan satwa. Kasus yang terjadi diarahkan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi dan indikasi, termasuk pemberian Vaksin Antirabies (VAR) maupun Serum Antirabies (SAR) bila diperlukan.
Surveilans epidemiologi juga diperkuat untuk mengantisipasi penyakit menular, termasuk Legionella dan DBD, terutama di wilayah dengan aktivitas pariwisata yang tinggi.
Sementara untuk mencegah gangguan kesehatan pencernaan yang kerap disebut wisatawan sebagai “Bali Belly”, Dinkes Badung melakukan upaya dari hulu hingga hilir. Penanganan tidak hanya menyasar aspek lingkungan, tetapi juga keamanan pangan di kawasan pariwisata.
Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi dan pemeriksaan higiene, air bersih, sanitasi, serta keamanan pangan. Pengawasan dilakukan terhadap tempat pengolahan makanan, restoran, hotel hingga usaha kuliner skala mikro di kawasan wisata untuk memastikan memenuhi persyaratan kesehatan dan higiene sanitasi. Pengelola vila, homestay, dan hostel juga diimbau mengarahkan wisatawan yang mengalami gangguan kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan resmi, seperti puskesmas, klinik maupun rumah sakit yang telah berizin.










