Hadiri Udangan ‘Pawiwahan’ di Desa Petak Kelod, Gianyar Wedakarna Bangga ‘Semeton’ Bali Lestarikan Budaya Asli Indonesia

GIANYAR-fajarbali.com | Anggota DPD/MPR RI utusan Provinsi Bali Komite III Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, SE, (MTru), M.Si atau akrab disapa AWK disambut hangat oleh kedua keluarga mempelai I Gede Dewa Ganapati (Mantan Presidium Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) dan I Dewa Ayu Mhyta Logenta Yanti (Mempelai Perempuan), saat menghadiri upacara suci manusa yadnya yang dilaksanakan di Desa Petak Kelod kabupaten Gianyar.

 Keluarga kedua mempelai menyampaikan terima kasih atas kehadiran AWK di hari yang berbahagia itu. Tak lupa mereka n meminta doa restu kepada pemimpin Bali yang di kenal sangat karismatik itu, agar kirannya mempelai yang memasuki masa grahasta menjadi keluarga yang berbahagia dan dilancarkan didalam segala hal. 

Dulunya pada zaman mahasiswa, mempelai laki-laki merupakan mantan Presidium Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) dan merupakan adinda oleh Senator RI saat dirinya aktif di keorganisasian kemahasiswaan. Sehingga tak kaget kalau hubungan antara ia dengan mempelai laki-laki secara struktur organisasi masih satu ideologi dan satu pergerakan. Yakni membela umat Hindu.
AWK, pada kesempatan itu menyarankan kedua mempelai agar tetap melestarikan kearifan lokal agar kebudayaan tetap terjaga dan tidak menghilang begitu saja, dan ia meminta tetap membela KB Bali yakni 4 anak cukup, sehingga catur warna tetap dijaga, karena menurutnya itu merupakan jati diri Hindu dan tugas semeton Hindu untuk menjaga ajaran-ajaran suci Weda. 

Kepada seluruh semeton Bali, ia meminta jangan menerima begitu saja KB Nasional yang menyarankan 2 anak cukup, karena menurutnya jika Bali menerapkan itu maka tidak sinkron dengan keadaan Bali saat ini, yang mana disebabkan kurangnya SDM di Bali, sehingga kedepannya ia tetap berkomitmen agar tetap lestarikan catur warna, dikarenakan menurutnya secara filosofis ajaran Hindu itu sangat luar biasa untuk diterapkan saat ini ataupun dimasa depan, sama halnya dengan catur warna yaitu Brahmana, Ksatria, Waesa dan Sudra. 

Yang mana 4 konsep tersebut menggambarkan anak pertama hingga anak ke empat yang masing-masing memiliki tugas yang bisa menjaga Bali, dan ia pun jelaskan kalau punya anak empat anak pertama dan kedua itu suruh tinggal di Bali untuk mengurusi adat dan banjar di desa ia tinggal dan anak ketiga maupun anak keempat suruh ia keluar negeri ataupun keluar bali untuk mencari arte dan mana perlu mengempan pendidikan sampai setinggi-tingginya untuk nantinya bisa membantu kesejahteraan keluarga yang tinggal di Bali.

“Saya bangga dengan semeton Bali yang melesatrikan budaya hindu asli Indonesia tanpa memakai budaya impor dari luar pulau, maka menurut saya ini sangat sesuai dengan ajaran Bung Karno yaitu berkepribadian di bidang budaya, pesan Saya tidak banyak untuk kedua mempelai, cukup menjadi keluarga yang menjaga nama baik maupun martabat keluarga, karena saat memasuki masa grahasta itu tidaklah mudah banyak godaan maupun cobaan yang akan datang, tetapi saya yakin semeton Bali pasti bisa menjadikan contoh yang baik di dalam menjalani masa grahasta,” tutupnya. Mempelai laki-laki saat ini bekerja di lingkungan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.  (Hms)
 

 Save as PDF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dugaan Korupsi di PD Parkir Dihentikan, Senderan Tukad Mati Jalan Terus

Sel Apr 3 , 2018
DENPASAR-fajarbali.com | Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Denpasar Sila Pulungan diam-diam sudah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus dugaan korupsi di Perusahaan Daerah (PD) Parkir Kota Denpasar.  Save as PDF

Berita Lainnya