Lima Belas Menit yang Dapat Mengubah Banyak Hal
Di sinilah Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) menemukan maknanya.
Sekilas, gerakan ini tampak sederhana: mengajak ayah mengantar anak ke sekolah. Namun, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar perjalanan menuju ruang kelas, melainkan kebiasaan untuk hadir.
Perjalanan sekitar lima belas menit menuju sekolah dapat menjadi ruang percakapan yang selama ini hilang di tengah kesibukan.
"Hari ini pelajaran apa?" "Kamu kelihatan gugup. Ada yang ingin diceritakan?" "Ayah bangga sama kamu."
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa bagi orang dewasa. Namun, bagi seorang anak, kalimat tersebut dapat menjadi pengingat bahwa selalu ada seseorang yang percaya kepadanya.
Yang diantar ke sekolah sebenarnya bukan hanya anak. Yang diantar adalah rasa percaya dirinya.
Ketika Negara Mengubah Cara Pandang tentang Pengasuhan
Perubahan paradigma ini kini mulai tercermin dalam kebijakan publik. Sebagai tindak lanjut Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerbitkan Surat Nomor B/257/M.KT.02/2026 yang mengimbau instansi pemerintah memberikan fleksibilitas waktu kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) agar dapat mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.
Kebijakan ini mungkin tampak sederhana, tetapi maknanya jauh lebih besar.










