Fenomena ini dikenal sebagai fatherless. Bukan berarti seorang anak tidak memiliki ayah, melainkan kehilangan kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-harinya.
Pendataan Keluarga Tahun 2025 yang dilakukan Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan bahwa 25,8 persen anak Indonesia belum merasakan keterlibatan ayah secara optimal dalam pengasuhan.
Angka tersebut seharusnya menjadi alarm bagi kita semua.
Anak tidak hanya membutuhkan seseorang yang membiayai pendidikannya. Mereka juga membutuhkan sosok yang mendengarkan ceritanya, memahami ketakutannya, merayakan keberhasilannya, dan tetap berada di sisinya ketika menghadapi kegagalan.
Ironisnya, banyak anak tidak kehilangan ayah. Mereka hanya kehilangan waktu bersama ayah.
Ilmu Pengetahuan Membuktikan: Kehadiran Ayah Membentuk Masa Depan Anak
Apa yang selama ini dirasakan banyak keluarga juga didukung oleh berbagai penelitian.
Psikolog perkembangan Michael E. Lamb dalam The Role of the Father in Child Development menjelaskan bahwa kualitas keterlibatan ayah berpengaruh besar terhadap perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.
Anak yang tumbuh bersama ayah yang terlibat cenderung lebih percaya diri, memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik, serta lebih mampu mengelola emosinya.
UNICEF juga menegaskan bahwa interaksi yang responsif antara orang tua dan anak merupakan fondasi penting bagi perkembangan otak dan pembentukan karakter.
Berbagai temuan tersebut menyampaikan pesan yang sama: anak membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan materi. Mereka membutuhkan hubungan yang hangat dan bermakna dengan kedua orang tuanya.










