GAMAS: Dari Pencari Nafkah Menjadi Pengasuh, Saatnya Mengembalikan Ayah ke Ruang Tumbuh Anak

IMG-20260718-WA0015
[ilustrasi]-Seorang ayah mengantar buah hatinya ke sekolah. ist

DENPASAR-fajarbali.com | "Ayah, hari ini antar aku ke sekolah, ya." Permintaan itu terdengar sederhana. Mungkin hanya terjadi setahun sekali, tepat pada hari pertama sekolah. Namun, di balik kalimat singkat tersebut tersimpan sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar.

Seberapa hadir sebenarnya seorang ayah dalam kehidupan anaknya?

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia tumbuh dengan pemahaman yang nyaris seragam. Ayah bekerja di luar rumah sebagai pencari nafkah, sementara ibu mengasuh dan mengelola kehidupan keluarga. Pembagian peran tersebut lahir dari konteks sosial pada masanya dan tidak sepenuhnya keliru.

Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Anak-anak masa kini tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan yang semakin besar, tetapi juga dukungan emosional yang semakin kuat. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus informasi, tekanan media sosial, tantangan kesehatan mental, hingga perubahan pola pergaulan yang semakin kompleks.

Di tengah perubahan itu, muncul kesadaran baru bahwa menjadi ayah tidak lagi cukup dimaknai sebagai pencari nafkah. Ayah juga perlu hadir sebagai pengasuh, pendidik, pendengar, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Inilah paradigma baru pengasuhan yang mulai tumbuh di Indonesia.

Ketika Ayah Hadir Secara Fisik, tetapi Tidak Hadir dalam Kehidupan Anak

Kesibukan bekerja sering kali membuat waktu bersama keluarga semakin terbatas. Tidak sedikit ayah yang berangkat sebelum anak bangun dan pulang ketika anak telah tertidur. Ada pula yang secara fisik berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertambat pada pekerjaan atau layar telepon genggam.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top