Keberhasilan tersebut tidak lepas dari meningkatnya permintaan pasar terhadap produk organik, terutama dari sektor perhotelan yang membutuhkan pasokan berkualitas dan berkelanjutan.
Di sisi lain, perbankan nasional seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat komitmennya dalam mendukung sektor pertanian organik melalui akses pembiayaan. Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan pihaknya aktif mendorong pelaku usaha pertanian untuk naik kelas melalui dukungan permodalan yang terjangkau.
“BRI berkomitmen mendukung pengembangan pertanian organik melalui akses pembiayaan yang mudah dan inklusif. Sektor ini tidak hanya memiliki potensi ekonomi besar, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), BRI memberikan kemudahan akses modal bagi petani, sekaligus melakukan pendampingan dan peningkatan literasi keuangan.
“Tidak hanya pembiayaan, kami juga mendorong peningkatan kapasitas petani agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan dan berdaya saing,” imbuhnya.
BRI optimistis sinergi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha akan mempercepat pertumbuhan sektor pertanian organik, khususnya di Bali dan Nusa Tenggara.
Di tengah tantangan biaya produksi dan keterbatasan teknologi, dukungan permodalan dinilai menjadi salah satu kunci agar petani dapat bertransformasi menuju pertanian modern berbasis inovasi.
Keberhasilan petani seperti Sandi pun menjadi bukti bahwa dengan akses yang tepat, sektor pertanian organik mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. (rel)










